BAB II

SABAR BAGIAN DARI AKHLAK MULIA

A.      Dasar dan Tujuan Sifat Sabar

Sifat sabar  merupakan salah satu sifat terpuji dan mulia yang        harus dimiliki oleh setiap muslim, baik perempuan maupun laki-laki.  Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada setiap muslim agar selalu bersabar dalam setiap cobaan yang  diterima oleh setiap muslim. Dengan demikian sifar sabar wajib dimiliki oleh setiap muslim dan berserah diri kepada     Allah SWT.

Firman Allah :

يأيهاالذين ءامنوااصبرواوصابرواورابطواواتقوالله لعلكم تفلحون.

 (ال عمران : ٢٠٠).

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negeri kalian) dan bertawakkallah kepada Allah supaya kalian beruntung. (Q.S. Ali Imran : 200).

Firman Allah :

واستعينوا بالصبر والصلوة وإنهالكبيرة إلاعلى الخشعين.(البقرة : ٤٥).

Artinya : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Q.S. Al-Baqarah : 45).

Firman Allah :

إلا الذين ءامنوا وعملوا الصلحت وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر.

(الصر : ٣).

Artinya :  kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Ashr : 3).

 

Artinya :   Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (Q.S. Al-Fushshilat : 35).

Artinya :   Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Anfaal : 47).

 

 Artinya : Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Q.S. Az-Zumar : 10).

.Dari beberapat ayat Al-Qur’an yang telah dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa sabar  salah satu sifat yang mulia yang wajib dimiliki oleh setiap orang yang beriman.  Sebab tidak semua orang  memiliki  sifat tersebut.

Selanjutnya, sabar yang diperintahkan  Allah SWT kepada setiap orang yang beriman dalam segaa bentuk; baik dalam bentuk  ujian, cobaan dan bahkan dalam segala tindakan dan perbuatan yang akan diperbuatnya didunia. Hal ini tentunya bertujuan agar seorang muslim senantiasa bertaqwa kepada  Allah SWT,  dan juga  untuk memperoleh pahala yang besar        dari-Nya. Sebagaimana Firman-Nya dalam surat Yusuf ayat 90, yang berbunyi :

 

Artinya : Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?.” Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.” Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Yusuf : 90).

 

                                Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa orang-orang yang sabarlah yang mendapat karunia dan pahala yang besar dari sisi Allah SWT, dan mereka itulah  orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Selanjutnya dalam surat Al-Luqman ayat 17  Allah SWT juga berfirman, yang berbunyi :

 

Artinya : Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).. (Q.S. Luqman : 17).

Berdasarkan firman  Allah di atas, dapat dipahami bahwa orang-orang yang sangup menerima segala  segala apa yang menimpa dirinya ia akan tercegah dari perbuatan-perbuatan yang mungkar. Sebab bila  seseorang tidak memiliki sifat sabar maka ketika ia menerima sesuatu cobaan  ia bukannya bertambah iman dan ketaqwaannya kepada Allah melainkan ia kafir dan berpaling dari Allah SWT. Untuk itu, sabar dapat bertujuan untuk mencegah seseorang berbuat  dosa atau mungkar.

Sabar dari sudut praktikalnya adalah perlakuan rohani yang dapat menahan diri dari melakukan perbuatan yang tidak baik. Sifat sabar itu menunjukkan pembinaan hati yang mulia dan membentuk tingkah laku baik. Lebih lanjut, sesuai dengan pengertian Sabar ialah : menahan diri terhadap apa yang dibencinya, atau menahan sesuatu yang dibencinya dengan ridha dan rela. Orang muslim yang menahan diri terhadap apa yang dibencinya seperti beribadah kepada Allah Ta’ala, dan taat kepada-Nya. Ia mewajibkan sifat tersebut pada dirinya, menahan diri dari bermaksiat kepada Allah dengan tidak mengizinkannya mendekatinya. Ia menahan diri terhadap ujian yang menimpanya dengan tidak membiarkannya berkeluh kesah, atau marah, sebab keluh kesah terhadap sesuatu yang telah hilang adalah  penyakit, dan keluh kesah terhadap apa yang akan terjadi adalah tidak ridha. Sedang tidak ridha terhadap takdir berarti mengecam Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa.

Dalam bersabar terhadap itu semua orang muslim bersenjatakan  diri dengan ingat pahala ketaatan yang besar dari Allah SWT, dan ingat siksa pedih Allah SWT untuk orang-orang yang dimurkai-Nya dan orang-orang  yang bermaksiat kepada-Nya. Selain itu ia ingat  bahwa takdir-takdir  Allah senantiasa berlangsung, keputusannya adalah adil, dan hukumnya   pasti terjadi, seorang hamba sabar atau tidak. Hanya saja, sabar itu menjanjikan pahala dan tidak sabar itu menjanjikan dosa. Karena  sabar adalah akhlak yang didapatkan dengan pelatihan dan usaha yang maksimal.

Dari uaraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa tujuan sabar antara lain adalah : meningkatkan ketaqwaan kepada Allah,  untuk mendapatkan rahmad dari sisi Allah, untuk  dapat menahan diri dari perbuatan dosa, serta untuk dapat memperoleh pahala dan ampunan dari Allah SWT. Selain dari pada itu  sifat sabar juga  bertujuan untuk menghilangkan sifat keputusasaan bagi orang yang beriman.

Putus asa adalah godaan setan. Setan mencoba memengaruhi orang-orang beriman dengan membuat mereka bingung dan kemudian menjerumuskan mereka untuk berbuat kesalahan yang lebih serius. Tujuannya adalah agar orang-orang beriman tidak merasa yakin dengan keimanan dan keikhlasan mereka, membuat mereka merasa “tertipu”. Jika seseorang jatuh ke dalam perangkap ini, ia akan kehilangan keyakinan dan akibatnya akan mengulangi kesalahan yang sama atau bahkan lebih besar dari kesalahan sebelumnya.1

Dalam kondisi demikian, orang beriman harus segera meminta ampunan Allah, berpikir seperti yang Al-Qur`an ajarkan dan segera membentuk pola pikir yang baru. Al-Qur`an menjelaskan apa yang harus dilakukan orang beriman dalam kondisi itu,

 

Artinya : “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah

kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-A’raaf: 200)

Jika seseorang ikhlas dalam keimanannya kepada Allah, Allah akan mengampuni dosanya jika ia berbuat salah atau dosa. Bahkan jika ia berpaling dalam waktu yang lama, ia masih mendapatkan kesempatan untuk bertobat. Perbuatan setanlah yang menyebabkannya berputus asa. Allahlah satu-satunya yang dapat memberikan ampunan dan keadilan yang abadi     dan yang menjanjikan kemenangan dan surga-Nya kepada orang-orang beriman. Saran dari Nabi Ya’qub harus menjadi panduan bagi semua orang beriman.

Selanjutnya, Allah SWT memerintah kepada orang-orang yang beriman agar selalu bersabar dengan tujuan selalu mendapat                 rahmat, petunjuk, dan pertolongan Allah SWT serta memperoleh kemenagan dunia dan akhirat. Selain dari pada itu sabar juga bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan juga agar memperoleh ampunan dan pahala yang besar.

 

B.      Kriteria Orang Yang Sabar

Sebagaimana kita maklumi bahwa sabar merupakan sifat yang terpuji yang  tidak dimiliki oleh sebarang orang, melainkan sifat sabar  hanya dimiliki oleh orang-orang yang sanggup menerima segala macam cobaan yang menimpanya serta sabar dalam segala tindakan. Oleh karena itu orang-orang yang memiliki sifat sabar tersebut memiliki kriteria yang tidak dimiliki oleh  orang yang tidak memiliki sifat tersebut.

Secara umum kita dapat memahami kriteria  orang-orang yang sabar antara lain, beriman, suka menyedekahkan harta yang dicintainya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta menempati janji bila ia berjanji. Hal ini  kiranya sesuai dengan firman Allah  SWT dalam  surat Al-Baqarah ayat 177, yang berbunyi :

 

Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah : 177)

 

Ayat  di atas turun  sehubungan  dengan anggapan kaum  Yahudi  yang

menganggap bahwa yang baik itu shalat menghadap ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur, sehingga turunlah ayat tersebut. Dan juga  ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan pertanyaan seorang laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah SAW tentang “al-Bir” (kebaikan). Setelah turun ayat tersebut di atas (S. 2. 177) Rasulullah SAW memanggil kembali orang itu, dan dibacakannya ayat tersebut kepada orang tadi. Peristiwa itu terjadi sebelum diwajibkan shalat fardhu. Pada waktu itu apabila seseorang telah mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘Abduhu wa rasuluh”, kemudian meninggal di saat ia tetap iman, harapan besar ia mendapat kebaikan. Akan tetapi kaum Yahudi menganggap yang baik itu ialah apabila shalat mengarah ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur.2

Dari ayat dan uraian di atas dapat dipahami bahwa kriteria pokok orang-orang sabar anatara lain adalah beriman, suka mendermakan harta yang dicintainya untuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji bila ia berjanji, sabar dalam segala kesempitan dan kesusahan, serta tabah hati.

                Di saat berbagai kesulitan dan kesukaran menimpa seseorang sehingga ia merasakan kesempitan berlarut-larut, maka hanya ketabahan hati

sajalah yang dapat menerangi hati seorang muslim dan menjaganya  dari keputusasaan. Baginya ketabahan merupakan sifat utama yang dibutuhkan  oleh setiap muslim dalam menghayati kehiduoan  dunia dan agamanya.

Ia harus memperteguh ketahanan mental menghadapi soal yang tidak disukainya tanpa merasa terpaksa, sabar  menunggu hasil pekerjaan dan perbuatannya kendatipun lama, sanggup menghadapi macam-macam rintangan betapun beratnya  dengan hati yang bersih dari kebimbangan, dan dengan fikiran yang tidak mau tunduk kepada kesulitan. Ia harus memeliki kepercayaan yang teguh  dan bertekat mantap. Sebab Allah SWt telah menentukan bahwa semua manusia pasti menghadapi ujian dan cobaan hidup.3 Oleh karena itu manusia harus siap-siap menghadapi musibah yang akan menimpanya, agar ia jangan sampai tunduk kepada kesukaran-kesukaran  yang datang secara tiba-tiba.

Allah SWT, berfirman :

 

Artinya : Seseunnguhnya kami benar-benar hendak menguji kalian untuk kami ketahui siapa-siapa diantara kalian yang berjihad dan tabah (sabar). dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu (Q.S. Muhammad : 31).

Dari uraian dan beberapa ayat Al-Qur’an yang telah dikemukakan di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa  kriteria orang yang sabar  dapat disebutkan, antara lain :

1.        Beriman  dan bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang  telah diberikan kepadanya.

2.        Siap dan rela menerima apa saja yang diberikan Allah SWT kepadanya  walaupun harus mengorbankan harta, jiwa bahkan penderitaan yang  amat sangat.

3.        Taat beribadah kepada Allah SWT  dalam keadaan dan situasi yang bagaimanapun.

4.        Rendah diri dan berakhlak mulia.

5.        Tanpa ragu-ragu dalam berbuat kebajikan  dan  suka mendermakan  hartanya dijalan Allah.

6.        Orang yang sabar jauh dari sifat-sifat tercela.

 

C.      Pendidikan Sabar

Pendidikan sabar mempunyai peranan yang sangat penting dalam hidup dan kehidupan manusia karena tidak hanya mengatur kehidupan dunia, tetapi juga mengatur kehidupan  manusia di alam akhirat. Pendidikan sabar  mendidik nilai-nilai moral dan mengajak manusia untuk dapat menahan diri dari segala bentuk  cobaan yang diberikan Allah dan juga menahan diri dari prilaku yang dapat merusak dirinya dunia dan akhirat.

                Pendidik adalah yang memberikan pelayanan mengembangkan potensi terdidik. Pendidik seharusnya mengenal dan menguasai konsep dasar tentang manusia dan alam. Dalam pendidikan Islam, konsep dasar tersebut bersumber dari Alquran dan Sunnah. Pendidik juga dituntut mempunyai loyalitas yang satu yaitu kepada Allah SWT dan meniadakan ikatan yang lain. Hal itu akan berimplikasi kepada sikap guru yang tidak memutlakkan pendapat manusia. Namun dalam mencapai kesempurnaan dan saling melengkapi tersebut, pendidik dan terdidik dituntut selalu melakukan penelitian, mendorong minat dan memperkuat motivasi terdidik agar selalu belajar.

Pendidik pun dituntut menjadi teladan dalam segala kesempatan. Sebagai teladan, pendidik juga belajar mengasah kemampuannya sehingga terdidik akan lebih percaya akan kemampuan pendidiknya. Di samping itu, tehnik dan cara komunikasi pendidik semestinya sesuai dengan kultur tempat pendidikan dilaksanakan.

                Terlepas dari hal tersebut, subtansi terdidik berkembang dari konsep penerima pasif informasi (classical education) ke manusia penyerap bentuk prilaku (technological education). Konsep itu terus berkembang menjadi konsep manusia utuh yang harus dikembangkan intelektualnya, melalui pengembangan emosi dan penyesuaian sosial (personalized education). Konsep tesebut akhirnya berujung pada konsep, bahwa manusia yang perlu dilatih dialog dengan sesamanya.

                Perkembangan konsep tentang manusia tersebut berimplikasi kepada pergeseran peran utama dalam interaksi belajar mengajar, dari mengutamakan peran pendidik menjadi mengutamakan peran peserta didik. Keadaan itu merefleksikan pandangan, bahwa manusia sebagai kertas kosong (emperisme) berkembang kepada pandangan bahwa manusia berpembawaan baik atau buruk (nativisme). Akhirnya berkembang menjadi pandangan, bahwa manusia berpotensi baik dan buruk saat lahir dan ditentukan perkembangannya oleh keadaan lingkungan..

Dalam Islam seperti telah disebutkan, manusia potensial berbuat baik, berilmu pengetahuan untuk menguasai keterampilan/khalifah, tidak berpengetahuan saat dilahirkan serta dapat dipengaruhi lingkungan walau saat akan menghadapi kematian. Potensi tersebut berkembang secara bertahap, dengan kapasitas yang berbeda antar individu. Bertolak dari hal itu, terdidik memerlukan bimbingan untuk  berbuat baik, berilmu dan menguasai suatu keterampilan tertentu dalam waktu yang lama.

 

D.      Kisah Nabi Ayub Tentang Sabar

Pada mulanya Nabi Ayub As. dikenal sebagai orang yang sangat kaya raya, gagah dan tampan rupawan, dan juga beristri banyak, namun secara sangat cepat pula  semuanya hilang.  Allah  memberinya  ujian  dan   cobaan

berupa penyakit kulit yang susah untuk disembuhkan.4

Berkat kesabaran dan sikap berserah dirinya kepada Allah, kemudian Allah menyembuhkan penyakitnya dengan memerintahkannya agar dia menghentakkan kakinya ke bumi. Nabi Ayyub menaati perintah itu maka keluarlah air dari bekas kakinya atas petunjuk Allah, Nabi Ayyub pun mandi dan minum dari air itu, sehingga sembuhlah dia dari penyakitnya, dikembalikan segala apa yang dipunya sebelumnya, ditambah lagi kemuliaannya, dan dicatat sebagai orang yang sabar. Sebagaimana firman Allah SWT :

 

Artinya : Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya). (QS. Shaad: 44).

Nabi Ayyub adalah contoh teladan seorang Nabi dalam menghadapi cobaan berupa penyakit. Sesungguhnya mereka yang kini sedang terbaring sakit atau yang sedang menderita suatu penyakit, mestilah membaca kisah tentang Nabi Ayyub ini, mudah-mudahan dapat memberi motivasi untuk lebih bersabar.

Allah SWT memberikan cobaan kepada hamba-hamba-Nya tak pernah pandang bulu. Baik kaya atau miskin. Bukan hanya orang biasa, para Nabi pun diberi cobaan sesuai dengan kemampuannya. Namun ketika manusia diberi cobaan kemiskinan dan penderitaan biasanya gampang berkeluh kesah. Tapi kalau dicoba dengan kekayaan, malah lupa kepada Yang Maha Pemberi. Seperti yang terjadi pada Karun.

Nabi Ayub adalah Putera Nabi Ishak itu sebelumnya dianugerahi keberlimpahan harta. Hampir semua binatang ternak seperti lembu, kambing, kuda, keledai dan unta ia miliki. Kehidupannya pun serba senang. Tapi itu tak membuat Ayub lupa daratan. Ia tetap gemar berderma kepada fakir miskin.Iblis rupanya tak senang dengan berbagai kebaikan yang dilakukan Ayub. Dia meminta kepada Allah untuk mengganggu kedermawanan Ayub. Harta Ayub dibuat ludes, kemiskinan mulai menghapus semua kekayaan Ayub. Ayub jatuh miskin. Pelan-pelan ia mulai akrab dengan penderitaan. Badannya mulai kurus hingga tak enak dipandang.  Itu saja belum cukup, Ayub menderita penyakit kulit semacam gatal-gatal yang begitu parah sampai sekujur badannya diselimuti nanah dan belatung.

Akibat penyakitnya itu, ia diasingkan oleh masyarakat karena dianggap akan menyebarkan wabah penyakit. Hanya istrinyalah yang menjadi teman setia. “Upaya itu dilakukan Iblis supaya Ayub berpaling dari Allah. Tapi iblis gagal karena cobaan itu membuatnya makin dekat dengan Allah,” kata bapak beranak tiga ini. Selama tujuh tahun Ayub bergulat dengan penyakit. Dan selama itu pula ia bersabar dan tawakkal.5

Dia diuji dengan kekayaan dan harta benda. Kemewahan dengan kekayaan yang dinikmati makin hari makin susut dan akhirnya semua harta benda itu habis. Nasib Ayub berubah menjadi seorang miskin dalam sekelip mata. Walaupun menghadapi ujian getir imannya terhadap Allah tidak tergugat. Pendiriannya tidak berubah. Justeru, dia diuji sekali lagi dengan kematian anaknya, namun beliau masih boleh bersabar. Pada masa sama dapat memupuk ketakwaan pada Allah.

Mengenai berbagai ujian terhadap Ayub, Allah berfirman:

 

 

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami akan berikan cubaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Berikanlah berita gembira bagi orang yang sabar, iaitu orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, `sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali”. (Q.S. Al-Baqarah : 155-156).

 

Selepas harta dan anak, Nabi Ayub diberi ujian dengan serangan penyakit kulit luar biasa pada dirinya sendiri. Dia nyata menderita penyakit itu selama tujuh tahun. Begitu lama menanggung sengsara penyakit itu, namun dia tidak pernah gelisah. Dia tabah menghadapi dugaan, badannya makin kurus, hingga menakutkan mata memandang, namun masih mampu mengingati Allah.

Penyakit itu sungguh dahsyat, sehinggakan tiada orang sanggup melihatnya kecuali isterinya yang sabar menemani dan merawatnya. Iblis pula tidak senang melihat kesabaran dan kesetiaan isteri Ayub.

Isterinya tergoda supaya tidak melayaninya lagi. Tipu daya iblis itu sebenarnya diketahui Ayub dari awal lagi lalu diberitahu kepada isterinya. Nabi Ayub berkata kepada isterinya: “Jika aku sembuh, engkau pasti aku pukul 100 kali.”

Kemudian Nabi Ayub mengadu nasibnya dan berdoa kepada    Allah, seperti digambarkan melalui Al-Quran surat Shaat ayat 41, yang berbunyi :

 

Artinya : Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.”. (Q.S. Shaad : 41).

Allah memperkenankan permohonannya, seperti firman-Nya :

ار كض بر جلك هذا مغتسل باردوشر ب. (ص : ٤٢).

Artinya : Hentamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. (Q.S. Ahaad : 42).

Nabi Ayub melaksanakan perintah Allah itu, menghentakkan kaki ke bumi, lalu keluar air dan dengan air itu baginya mandi dan meminumnya, sehingga penyakitnya sembuh.

وو هبناله، ومثلهم معهم رحمة مناوذكرى لاولى الألبب. (ص: ٤٣).

Artinya : Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang yang mempunyai fikiran. (.Q.S. Shaad : 43).

Ayat di atas menceritakan tentang sekelumit kisah Nabi Ayub dalam menerima cobaan yang sang at berat. Dimana cobaan yang diterima oleh Nabi Ayub hendaklah menjadi pelajaran bagi orang-orang  yang mempunyai pikiran.

Namun dalam memahami kisah tersebut hendaklah jangan dalam perangkap cerita-cerita dogeng yang tidak ada dasarnya. Tentang penyakit Ayub tidak perlu disebutkan begini dan begitu, begitu juga tentang sumpahnya cukuplah dipercayai sebagaimana tersebut dalam ayat-ayat itu tanpa dibumbui dengan cerita dogeng yang mungkin menyesatkan.6

Selanjutnya, mengenai nazarnya, Nabi Ayub mengingatkan isterinya yang terpedaya dengan iblis baginda akan memukulnya itu 100 kali jika sembuh. Justeru, apabila benar-benar sembuh dan sihat, Nabi Ayub bertekad melaksanakan nazar itu. Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Ayub mengenai cara melakukan nazar itu. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Shaat ayat 44, yang berbunyi :

 

 

 

 

Artinya : “Dan ambillah dengan tanganmu seikat rumput (100 batang), lalu pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar, dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).”. (Q.S. Shaat : 44).

Musibah penyakit banyak hikmahnya. Apabila diuji dengan penyakit dan penderitaan, manusia sedar kekuatan dirinya tidak mampu bertahan selamanya. Manusia mudah lupa jika sentiasa sihat. Bahkan, Firaun mengaku dirinya tuhan antaranya disebabkan dia tidak pernah ditimpa penyakit. Ujian menderita akibat penyakit memberi kesan psikologi yang mendalam kepada manusia, berbanding dengan ujian lain. Apabila menderita penyakit berbahaya atau rasa kesakitan teramat sangat, maka terlintas mengenai kematian.

Musibah adalah  peringatan bagi manusia muhasabah diri kerana ujian

mendorong perasaan insaf dan memperbanyakkan istighfar supaya tidak terus dalam kelalaian duniawi. Memohon keampunan Allah boleh menghalang perasaan angkuh dan sombong. Selama ini kita hanya melihat nasib orang lain, dan kini tiba masanya terjadi kepada diri sendiri.

Bertaubat adalah tindakan spontan biasanya dilakukan oleh mereka yang ditimpa musibah. Ia bertepatan dengan sebab Allah menurunkan musibah ke atas diri seseorang sebagai tanda peringatan. Orang beriman berasa bersyukur dikenakan musibah sebagai ujian atau sebagai menghapuskan dosa yang dilakukan. Antara dosa dilakukan manusia, ada yang Allah hapuskan melalui pembalasan dalam bentuk musibah.

Oleh itu, orang beriman yang memahami konsep balasan dan ujian diturunkan melalui musibah berasakan dirinya sebagai bertuah. Kesakitan di dunia ini menjadi penyelamat daripada kepanasan api neraka pada hari akhirat kelak. Pengampunan dosa melalui musibah hanya jika kita menginsafi musibah itu, yakni menerima musibah dengan reda, sabar dan memohon keampunan kepada Allah. Allah suka mendengar pengharapan dan doa hamba-Nya.

Firman Allah SWT :

 

 

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami pernah menimpakan azab ke atas mereka, namun mereka tidak tunduk kepada Tuhan dan mereka juga tidak berdoa kepada Allah dengan merendah diri”. (Q.S.   Al-Mukminun : 76).

Berdoa  adalah ibadat  dan  jika  apa  yang  didoakan  tidak  dimakbulkan di

dunia, balasan kebaikan tetap diperoleh di akhirat atas apa yang dilakukan. Mungkin juga doa itu dimakbulkan dengan digantikan kebaikan lain. Mereka yang berasa keluh resah dan mempertikaikan musibah yang menimpa dirinya, maka tidak ada apa kebaikan diraih. Mereka itulah hamba yang benar-benar rugi di dunia dan akhirat. Ujian yang sepatutnya menaikkan darjat di sisi Allah tidak diduduki dengan baik. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya yang berbunyi :

 

 

 

Artinya : “Mereka yang ditimpa musibah mengucapkan: “Kita semua kepunyaan Allah dan kepada Allah kita akan kembali. Mereka itulah akan mendapat keberkatan sempurna dan rahmat daripada Tuhan mereka dan juga orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah, ayat 156 dan 157).

Kisah Nabi Ayub yang tabah menghadapi ujian ditimpa sejenis penyakit kulit luar biasa patut menjadi renungan. Akibat penyakit itu, keadaan badannya amat menakutkan mata memandang dan orang lain tidak sanggup melihatnya. Seluruh ahli keluarga tidak mau mendampinginya, kecuali isterinya.7

Iblis tidak senang melihat sifat isteri Nabi Ayub yang setia, lantas menggoda supaya dia meninggalkan Nabi Ayub. Nabi Ayub berdoa agar cita-cita iblis tidak berjaya dan Allah memperkenankan doa Nabi Ayub serta membalas kesabarannya dengan kejayaan.

 

 


 

 

1Ustadz Abu Rosyid Ash-Shinkuan, Bulletin : Bersabarlah Wahai Saudaraku,  Edisi ke-40, 19 Oktober 2007.

 

2Jalaluddin As Suyuthi,  Lubabun nuqul fii asbabin nuzul, Diterjemahkan menjadi Asbabun nuzul – Latar belakang historis turunnya ayat-ayat Al Quran oleh K.H.Q. Shaleh, H.A.A. Dahlan, Prof Dr. H.M.D. Dahlan. (Diponegoro : Bandung, 2004), hal. 77.

 

3Muhammad Al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim (diterjemahkan oleh Abu Laila dan Muhammad Tohir), Cetakan ke-10, (Bandung : Al-Ma;arif, t.t), hal. 244.

 

4Hidayah Salim, Qishasul Anbiya : Sejarah 25 Rasul, Edisi Rivisi, (Bandung : Alma’arif, t.t.), hal. 135.

 

6Oemar Bakry, Tafsir Rahmat, (Jakarta : Mutiara, 1986), hal. 897.

 

7Hidayah Salim, Qishashul Anbiya : Sejarah 25 Rasul, (Bandung : Al-Ma’arif, 1987), hal. 136.