Pendahuluan

Pembangunan yang sedang dilakukan Bangsa Indonesia sekarang ini adalah pembangunan disegala bidang meliputi keseluruhannya yang dapat membawa Bangsa dan Negara Indonesia ke suatu cita-cita suci dan luhur yaitu dapat mensejahterakan seluruh rakyat baik material maupun moril yang berazaskan ideologi Pancasila.

            Pembangunan yang sedang berlangsung sekarang ini, tak akan berjalan dengan lancar tanpa adanya tunjang menunjang antara satu bidang dengan bidang lainnya. Bidang pendidikan, pertanian, agama tidak akan berhasil bila hal ini tanpa ditunjang oleh bidang penerangan atau komunikasi.

            Pada masa sekarang ini ilmu pengetahuan teknologi semakin bertambah maju, system komunikasi masa terus ditingkatkan guna memberi keterangan atau penyampaian berita yang cepat. Salah satu komunikasi massa yang sangat digemari oleh ratyat umumnya dan khususnya murid-murid sekolah ialah VCD yang selalu menampilkan berbagai bentuk film, baik film yang bernafaskan Islam maupun film-film yang lain. Melalui film anak-anak dapat belajar dan meniru, bahkan kadang-kadang kaset tersebut sangat berkesan pada mereka sehingga kelihatan gerak dan tingkah laku lakunya pada ucapan dan perbuatan sehari-hari.

            Dengan berbagai film yang menarik yang ditampilkan di VCD itu, telah merangsang anak-anak untuk berjam-jam menyaksikannya, bahkan kadang kala mereka tetap duduk hingga acara selesai. Bagi murid-murid sekolah dasar VCD sangat memberikan pengaruh, akibatnya murid-murid lebih senang meniru tokoh-tokoh dalam kaset VCD. VCD lebih berwibawa dari pada orang tua sehingga banyak anak-anak tidak mengidolakan bapak dan ibunya serta guru-guru di sekolah akan tetapi mereka lebih mengidolakan  apa yang mereka lihat lihat dalam VCD yang bisa dianggap oleh anak-anak sebagai sahabat. Kalau ia ternyata leih akrab dengan VCD maka kepribadiannya akan mempengaruhi pada gerak tingkah lakunya yang dilihat pada VCD.

            Jika kaset pada VCD itu baik maka si anakpun akan berpengaruh dengan baik kalau tidak maka akan terjadi sebaliknya, karena dalam perkembangan jiwa si anak meniru merupakan suatu hal yang sangat mempengaruhinya. VCD merupakan alat media yang sangat mudah terpengaruh dalam jiwa anak, belum lagi film-film yang sangat mereka gemari. Anak-anak cepat meniru dan cepat pula terpengaruh dengan apa yang dilihatnya, hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Mahmud Yunus yaitu : “Anak-anak suka mencontoh dan meniru, ditirunya tentang apa-apa yang dilihatnya dicontohnya kelakuan teman sejawatnya”.1

            Bertitik   tolak    pada    kutipan    di   atas    bahwa   VCD   memang   besar

pengaruhnya dalam kehidupan anak-anak. Kalau VCD telah masuk ke rumah berarti kaset VCD bisa masuk ke dalam jiwa anggota keluarganya khususnya ke dalam jiwa anak-anak. Di samping sikap teman sejawatnya, sering meniru-niru sikap anggota keluarganya sebagaimana yang dikatakan oleh I.P. Simanjuntak “makin banyak jumlah anggota keluarga yang serumah makin banyak pula pengaruh mereka atas diri anak makin banyak pula yang dipelajarinya dari hubungan keluara itu”.2

            Memang mereka tidak bisa menutup matanya untuk tidak menontonnya  bahkan kadang-kadang anak membuat jadwal khusus untuk acara-acara yang digemarinya. Agar agama anak tidak mengalami penurunan  maka dalam hal ini mengontrol anak mutlak diperlukan. Oleh karena itu orang tua perlu menciptakan suasana yang logis, menyediakan waktu untuk mendiskusikan atau mengobrolkan kaset-kaset VCD dengan anaknya dalam rangka menjernihkan pikiran dan prilaku anak dari pengaruh negative. Namun tidak semua kaset VCD yang bersifat negatif  ada juga yang bersifat positif, yang dilakonkan sesuai dengan metode yang terpilih. Santoso S. Hamidjojo mengatakan “media yang baik dapat menambahkan kesan   dramatis   atau   realisme   sehingga  orang   menerimanya   lebih  menaruh

 pengertian.3

            Dari latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi masalah penelitian adalah sebagai berikut :

1.      Bagaimana cara pemanfaatan VCD sebagai media pendidikan anak.

2.      Bagaimana perkembangan prilaku belajar anak dengan menggunakan VCD sebagai media pendidikan.


 

1Mahmud Yunus, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Jakarta : PT. Hady Karya Agung,  t.t. ), hal. 8.

 

2I.P. Simanjuntak, Ilmu Pendidikan, Departemen P dan K, (Jakarta : t.t.), hal. 24.

 

3Santoso S. Hamidjojo,  Perkembangan Media dan Teknologi Pendidikan  dan Winarno Surahmad, Pendidikan Indonesia”, dalam tantangan Sub. Proyek Penyusunan Rehabilitasi Pendidikan Guru, Tahun ke-I Pelita 1969/1970, hal. 69.

 

Pemanfaatan Media Pendidikan di Sekolah

Media pada hakikatnya merupakan salah satu komponen system pembelajaran. Sebagai komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan proses pembelajaran secara menyeluruh. Oleh sebab itu sebelum media pendidikan dimanfaatkan dalam proses pembelajaran anak terlebih dahulu  seorang guru harus telah mengenal beberapa jenis media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran pendidikan di sekolah.

Kelebihan dan kelemahan setiap jenis media juga telah diketahui, sebab dengan mengenal dan mengetahui kelemahan dan kelebihan suatu jenis media pendidikan akan sangat membantu seorang guru dalam menggunakan dan memanfaatkan media yang paling tepat  dan sesuai untuk kegiatan pembelajaran. Sebelum kita gunakan, media harus kita pilih secara cermat dan tepat agar hasilnya dapat lebih baik seperti   yang diharapkan.

            Media pembelajaran banyak sekali jenis dan macamnya, mulai yang paling sederhana dan murah  hingga media canggih dan mahal harganya. Ada media yang dapat dibuat oleh guru sendiri dan ada pula jenis media yang diproduksi pabrik. Selanjutnya ada pula media yang sudah tersedia di lingkungan yang secara langsung dapat kita manfaatkan dan ada pula media yang secara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran.

            Meskipun media pendidikan banyak jenis dan macam ragamnya, namun kenyataanya tidak banyak jenis media yang biasa digunakan oleh guru di sekolah. Beberapa media yang paling akrab dan hampir sekolah memanfaatkannya adalah media cetak/buku, dan papan tulis. Selain itu banyak pula sekolah yang memanfaatkan jenis media gambar, model dan Overhead Projektor (OHP) dan objek-objek nyata, sedangkan media lain seperti    kaset audio, video, VCD, Slide (Film bingkai), program pembelajaran computer, masih jarang digunakan meskipun sebenarnya tidak lagi bagi sebagian besar guru.1

            Dengan demikian itu media pendidikan merupakan suatu bidang yang harus dikuasai oleh guru yang profesional  dan suatu bagian integeral dari proses pendidikan di sekolah. Sebab apabila suatu media pendidikan yang digunakan oleh guru itu baik maka pengaruh prilaku anak akan baik  pula, dan sebalikya apabila media yang digunakan itu buruk  maka pengaruh prilaku anak  juga akan buruk.

            Prilaku anak sangat ditentukan oleh media pendidikan yang akan digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran pendidikan di sekolah.

            Disamping itu belajar adalah suatu proses yang komplek, tiap peserta  didik

mempunyai ciri yang unik untuk belajar, hal itu terutama disebabkan  oleh efisiensi mekanisme penerimaanya dan kemampuan akan tanggapannya. Seorang  anak yang normal akan  dapat memperoleh  pengertian dengan cara mengolah rangsangan dari luar yang ditanggapi oleh inderanya, baik indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa maupun peraba. Semakin baik tanggapan seseorang  tentang sesuatu objek, orang, peristiwa atau hubungan, semakin baik pula hal tersebut dimengerti dan diingat.2

            Tanggapan permulaan yang benar akan membantu belajar. Bila seseorang anak tidak mempunyai latar belakang pengalaman tentang sesuatu hal yang harus dimengerti atau dipelajari dia dihadapkan pada suatu persoalan. Apabila persoalan itu tidak terlalu berat, atau merangsang minatnya dia akan berusaha mencari informasi baru melalui pengalaman baru baik dengan jalan mengamati, membaca, bertanya ataupun meneliti sendiri. Selanjutnya apabila persoalan tersebut dimunculkan dari hal negatif berarti ia akan mencari tahu/meneliti sendri hal yang negative tersebut. Namun apabila persoalan tersebut dimunculkan oleh hal-hal yang sifatnya positif  berarti hal ini dapat dijadikannya sebagai ajang untuk meningkatkan prestasi belajarnya, dan sebagai pola untuk merobah tingkah lakunya  dari tidak baik menjadi baik dan bukan dari baik menjadi tidak baik.

            Dengan demikian prilaku anak sangat ditentukan oleh materi dan media pendidikan. Pasalnya kalau materi pendidikan itu baik maka pengaruh prilaku anak juga ikut baik. Oleh karena itu setiap materi pendidikan yang baik harus disajikan lewat media pendidikan yang baik pula, agar anak didik tidak salah dalam mengolah dan mempraktekkan dalam kehidupannya.

            Kemudian lebih lanjut dapat dijelaskan  bahwa penggunaan media pendidikan juga harus didasarkan analisa atas kurikulum. Analisa atas kurikulum itu sendiri dapat dilakukan dengan dua pendekatan : berdasarkan atas kegiatan apa yang perlu dilakukan oleh murid dan atas subyek yang perlu dipelajari.3  Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa dalam pembelajaran lagu dan gaya bahasa secara baik. Untuk itu anak harus melatih diri dengan mengucapkan, membandingkan, mengulang dan seterusnya. Selanjutnya dalam pelajaran IPA yang sifatnya konkrit  dalam mengajarkan sifat-sifat air yang menekan ke semua arah, yang selalu mempunyai permukaan rata. Dalam hal ini guru dapat memilih dan memanfaatkan media gambar, foto ataupun alat-alat percobaan dan lain sebagainya.

            Berdasarkan dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media pendidikan di sekolah  harus disesuaikan dengan materi dan tujuan pendidikan. Dengan demikian pembelajaran dapat terarah dengan baik dan akan mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan tujuan pengajaran.

 

Jenis-Jenis Media Pendidikan

Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk  jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.4

            Media pendidikan tentu saja media yang digunakan dalam proses dan mencapai tujuan pendidikan. Pada hakikatnya media pendidikan juga merupakan proses komunikasi. Dengan demikian media pendidikan yang      secara khusus digunakan untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang telah dirumuskan secara khusus. Sebab tidak semua media pendidikan adalah media pembelajaran, tetapi setiap media pembelajaran pasti termasuk media pendidikan.

            Berdasarkan dari uraian di atas, maka penulis dapat mengemukakan beberara jenis media pendidikan  secara umum yang termasuk  ke dalam media pembelajaran, antara lain : Media Audio, Media Cetak, Media Video.

 

1. Media Audio

            Meskipun media banyak macam ragamnya, namun kenyataannya tidak banyak jenis media yang  baiasa digunakan oleh guru di sekolah. Beberapa media yang paling akrab dan hampir semua sekolah memanfaatkan adalah media cetak.5 Dalam media cetak ini termasuk di dalamnya seperti buku paket, majalah, alat peraga yang berbentuk gambar tetap/tidak bergerak seperti gambar grafik, peta dan lain-lain.

            Dengan demikian media cetak adalah suatu media penyampaian informasi melalui bahasa dan gambar, sehingga mudah dimengerti dan dipahami oleh murid atau pembaca.

 

2. Media Audio

            Media audio yang dibahas disini khusus kaset audio karena media inilah yang paling sering digunakan di sekolah. Program kaset audio termasuk media yang sudah memasyarakat hingga ke pelosok pedesaan. Program kaset audio merupakan sumber  yang cukup ekonomis, karena biaya yang diperlukan untuk pengadaan dan perawatan cukup murah.

            Dalam penyajiannya media ini hanya membutuhkan beberapa perangkat sederhana  seperti  tipe  recorder  dan kaset.  Media  ini  banyak  digunakan  dalam

proses pembelajaran karena mempunyai beberapa kelebihan, antara lain adalah :

   Materi pelajaran yang sudah terekam tak akan berubah. Jika diperlukan bisa digandakan berkali-kali sesuai jumlah yang dibutuhkan

 

   Untuk jumlah sasaran yang banyak, biaya produksi  dan pengadaannya relative murah, jika diperlukan rekaman dapat dihapus dan kasetnya masih dapat digunakan ulang.

 

   Peralatan penyajiannya (Tipe Recorder) juga termasuk murah dibandingkan dengan peralatan audio visual lainnya.

 

   Program kaset audio dapat menyajikan kegiatan materi pelajaran  dan sumber pelajaran yang berasal dari luar kelas. Seperti hasil wawancara, rekaman peristiwa dokumentasi, dan lain-lain sehingga dapat memperkaya pengalaman belajar siswa.

 

   Program media audio sangat cocok untuk menyajikan materi pelajaran yang bersifat auditif, seperti pelajaran bahasa asing dan seni suara.6

 

Berdasarkan dari uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa  media audio suatu media yang disajikan melalui kaset rekaman  suara tanpa gambar. Media ini sangat cocok digunakan dalam proses pembelajaran keterampilan berbahasa dan melahirkan semangat belajar siswa.

 

 

3. Media Video

 

            Media Video merupakan salah satu jenis media audio visual yang penyajiannya meliputi suara dan gambar yang dilengkapi dengan warna yang sifatnya alami yang sekarang ini sudah dikemas dalam bentuk VCD yang secara langsung dapat ditonton melalui layer TV.

            Pemanfaatan video dalam proses pembelajaran bukan lagi suatu hal yang aneh, saat ini banyak sekolah yang telah memiliki dan memanfaatkannya program video dalam proses pembelajaran di sekolah, termasuk di SDN Alue Bakti Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya.

            Media video dapat menampilkan suara, gambar dan gerakan sekaligus. Sehingga media ini sangat efektif untuk menyajikan berbagai topic pelajaran yang sulit disampaikan melalui informasi verbal.7 Sebab kemampuan video untuk memanipulasi waktu dan ruang dapat mengajak siswa  melanglang buana  walaupun dibatasi oleh dinding  ruang kelas. Obyek-obyek yang terlalu kecil, terlalu besar atau obyek-obyek langka  dan berbahaya dapat dihadirkan ke ruang kelas. Pendeknya media ini mampu membawa dunia ke dalam kelas.

            Pesan yang dapat disajikan melalui video dapat bersifat fakta, (kejadian atau informasi nyata) dapat pula bersifat fiktif. Pada mata pelajaran yang    banyak mempelajari  keterampilan motorik, media video sangat diperlukan, karena video dapat menyajikan gerakan lambat. Dengan demikian sangat mudah dipelajari oleh siswa mengenai prosedur gerakan tertentu secara lebih rinci dan jelas.

            Berdasarkan dari uraian di atas dapat dipahami bahwa media video ini sangat praktis dan mudah dipahami oleh siswa terutama dalam proses pembelajaran keterampilan motorik, sejarah, serta contoh teladan yang diperankan

oleh sang tokoh dalam bentuk adegan film.

            Dewasa ini media ini biasanya dikemas dalam bentuk VCD. Beberapa tahun lalu media ini masih dianggap terlalu mahal untuk digunakan di sekolah. Tetapi saat ini harganya  sudah terjangkau oleh masyarakat hingga ke            lapisan bawah. Harga satu keeping VCD hampir sama dengan kaset                audio. Dengan demikian media vidio ini  layak kita jadikan salah satu  pilihan  untuk  dimanfaatkan  secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran  di  sekolah.

            Selanjutnya dari tiga jenis media pendidikan yang telah dikemukakan di atas dapat mewakili dari media-media pendidikan yang ada dan sering digunakan, sebab biaya penggunaannya relatif murah dan bukan barang langka yang sulit didapat.

            Dari media-media pendidikan ini juga mempunyai kelebihan dan kelemahannya, namun kita dapat memilih media yang paling tepat untuk kegiatan pembelajaran. Sebelum kita gunakan tentunya media harus kita pilih secara cermat. Memilih media yang tepat untuk tujuan pembelajaran bukanlah pekerjaan yang mudah akan tetapi pemilihan itu sulit dan rumit, karena harus mempertimbangkan berbagai faktor. Di samping itu tidak semua media pendidikan cocok untuk semua mata pelajara.

 

Karakteristik Umum Prilaku Belajar Anak

Belajar merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang tanpa mengenal batas usia, dan berlangsung seumur hidup. Belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk merubah prilakunya. Dengan demikian, hasil dari kegiatan belajar  adalah berupa perubahan prilaku  yang relative permanent pada diri orang yang belajar. Tentu saja perubahan yang diharapkan adalah perubahan kearah yang positif. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 25 yang artinya  : “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik (amal shaleh), bahwa bagi mereka disediakan syurga yang mengalir  sungai-sungai di dalamny.” (.Q.S. Al-Baqarah : 25).

            Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa prilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang diterimanya. Dalam hal ini proses belajar  yang terkandung dalam ayat diatas adalah melalui penyampaian materi yang baik dan diikuti oleh amal perbuatan. Sehingga dengan demikian setiap pemyampaian untuk mengajak beramal shaleh akan selalu menjadi contoh teladan yang baik bagi anak untuk dapat meniru dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian

            Sebagai tanda bahwa seseorang telah melakukan proses belajar adalah terjadinya perubahan prilaku tersebut, misalnya dapat berupa; dari tidak tahu sama sekali menjadi samara-samar, dari kurang mengerti menjadi mengerti, dari tidak bisa menjadi terampil, dari anak pembangkang menjadi anak penurut, dari pembohong menjadi jujur, dari kurang taqwa menjadi lebih taqwa dan lain-lain. Jadi dengan perubahan sebagai hasil kegiatan belajar dapat berupa pengetahuan, dan keterampilan.

            Anak di dalam interaksi belajar mengajar adalah subyek yang akan mencapai tujuan pembelajaran dalam bentuk hasil belajar. Setiap anak memiliki karakteristik umum yang dapat dilihat secara jelas melalui usia  dan sekaigus dapat diketahui prilaku belajarnya sesuai dengan tingkatan usianya.

            Adapun karakteristik umum siswa dapat dikemukakan sebagai berikut  :

a. Usia Kanak-kanak  yaitu usia pra sekolah sampai dengan usia sekolah dasar    (4 – 11 tahun) yang ditandai dengan munculnya masa peka dan keterampilan bersosialisasi.

b. Usia sekolah lanjutan pertama (12 – 14 tahun) dimana pada usia ini ditandai dengan munculnya pubertas dari setiap usia.

c. Usia Sekolah lanjutan atas (15-17 tahun) dimana siswa pada usia ini sudah mulai mencari identitas diri.8

 

            Karakteristik siswa ini sangat penting diketahui oleh seorang guru, karena hal ini merupakan dasar pertimbangan guru agar dapat melaksanakan interaksi belajar mengajar. Dengan kata lain guru perlu  melakukan  analisis  ciri-ciri  siswa

dan prilaku belajarnya, dengan demikian dapat diketahui pula tingkat kemampuan awal, pengalaman, tingkat kemahiran bahasa, latar belakang sosial ekonomis dan budaya. dengan tujuan agar dapat melaksanakan pembelajaran  dengan baik dan lancar dan dapat memilih metode dan media yang tepat untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

            Dari penjelasan di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pada masa usia 7 sampai dengan 12 tahun anak  mulai gemar mempelajari sesuatu dan ingin selalu mengetahuinya, terutama yang berkenaan dengan  keterampilan, maupun pengetahuan. Baik dengan cara bertanya ataupun dengan cara melihat, baik ketika ia berada di lingkungan sekolah, lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat.

 

 VCD Sebagai Media Pendidikan Anak

            Sebagaimana telah dikemukakan pada bab yang lalu bahwa VCD dapat dikatagorikan  sebagai media pendidikan,  sebab VCD  dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran anak  terutama mengenai keterampilan motorik, sejarah dan contoh teladan yang bersifat positif.

Memang pada umumnya VCD terdapat banyak hal-hal negatif dan mempercepat masuknya budaya Barat yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan belajar anak terutama gambar-gambar yang sifatnya ponografi, gerakan dan tingkah laku yang menjurus kepada hal-hal yang negatif yang diperankan oleh artis yang dapat dilihat/ditonton oleh anak secara bebas. Oleh karenanya secara moral VCD berdampak negatif jika dipergunakan untuk merusak moral anak, tetapi dapat bermanfaat dan berhasil guna jika dimanfaatkan hanya untuk hal-hal yang sifatnya positif. Agama Islam tidak melarang penggunaan media elektronik asalkan membawa kemaslahatan bagi manusia dan tidak digunakan untuk merusak generasi bangsa seperti adanya VCD porno yang dapat merusak moral anak.

            Selanjutnya VCD terdapat unsure-unsur yang mempengaruhi  kehidupan manusia, tata cara dan pergaulan  dengan pola pikir budaya luar juga akan merobah  sikap dan kepribadian manusia. Penggunaan VCD akan mempercepat masuknya budaya asing dan mempengaruhi prilaku anak kepada hal-hal yang negatif melalui penyajian film-film yang tidak islami, baik porno grafi maupun porno yang merusak moral anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Dr. Zakiah Darajat, bahwa :

Bacaan dan Film/Gambar memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengungkapkan rasa hatinya  yang terpendam, di samping itu mempunyai pengaruh untuk merangsang anak-anak untuk mengikuti contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari akhirnya secara tidak sadar mereka telah meniru atau meneladani pahlawan-pahlawan yang tidak bermoral yang terdapat dalam film-film/gambar dan bacan tersebut.9

 

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa keadaan semacam itu dapat menimbulkan kerusakan terhdap masyarakat dan akan membawa pengaruh terhadap diri si anak seperti timbulnya rasa kecemasan, kemalasan dan lain-lain sebagainya . Hal ini disebabkan oleh  ketidak mampuan mengontrol emosi yang terkena rangsangan dari luar itu.

            Penggunaan VCD harus terkontrol terutama sekali ketika   siswa berada di lingkungan rumah dan masyarakat, sehingga anak tidak dapat menonton VCD yang dapat merusak moralnya. Apabila hal ini dapat  dijaga dengan baik  oleh tua murid dan guru di sekolah tentunya mereka tidak akan terpengaruh dengan        hal-hal yang negatif. Dengan adanya pengawasan  VCD yang ditontonya dapat disaring dengan tontonan-tontonan  yang sifatnya mendidik, sehingga VCD benar-benar menjadi media pendidikan yang baik bagi anak. Oleh karenanya pemanfaatannya harus terkontrol   artinya   media  tersebut digunakan dalam suatu

rangkaian kegiatan yang diatur secara sistematis untuk mencapai tujuan tertentu.10

            Selanjutnya apabila pemanfaatan VCD tidak terkontrol maka anak dapat memutar/menonton kapan dan dimana saja sehingga dapat melalaikannya dan lupa kepada kegiatan-kegiatan lain yang lebih bermanfaat.

           


 

1Aristo Rahadi, “Media Pembelajaran”, (Jakarta ; Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Pendidikan,  2003), hal. 20.

 

2Yusuf Hadi Miarso, Dkk., “Teknologi Komunikasi Pendidikan”, Pengertian dan Pemanfataatannya di Indonesia, Cet. I, (Jakarta : CV. Rajawali,  1984), hal. 99.

 

3Ibid., hal. 101.

 

            4Soewando. MS, “Media Pembelajaran”, (Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan,  2003), hal. 9.

 

  

5Ibid., hal. 20

 

6Ibid., hal. 33-34.

 

7Ibid., hal. 35.

 

8Suprayekti, “Interaksi Belajar Mengajar”, (Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan,  2003), hal. 15.

 

 9Zakiah Darajat, “Kesehatan Mental”, (Jakarta : Gunung Agung,  1983), hal. 47.

 

10Aris Sadiman, Dkk, “Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya”, (Jakarta ; Pustekkom Dikbud dan PT. Raja Grafindo, Persada, 1999), hal. 183.