KENDURI NUJOH DI KECAMATAN SEUNAGAN

Oleh: Ibnu Hajar, S.Ag

 A.   Pendahuluan

Khanduri adalah termasuk salah satu dari bahagian sedekah dan mendapat fahala dari Allah bagi yang melakukannya dan bagi orang yang kita niat sedekah atas namanya. Diantara khanduri tersebut termasuk khanduri yang dilaksanakan pada orang meninggal (musibah kematian). Hal ini sesuai dengan sebuah hadis:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. (صحيح البخارى و مسلم)

“Dan barang siapa yang beriman dengan Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia muliakan tamunya. (HR. Bukhari dan Muslim)”.

 وعن عَائِشَةَ، أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَقَتْ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ: نَعَم) . رواه البخارى و مسلم)

Dari Aisyah RA, bahwa sungguh seorang laki-laki berkata bagi Nabi SAW: Bahwa sungguh ibuku meninggal secara tiba-tiba dan aku yakin bahwa seandainya dia mampu berbicara, dia akan bersedekah, apakah sampai fahala baginya jika aku bersedekah atas namanya? Nabi menjawab: Ya (sampai fahala kepada ibumu). (HR. Bukhari dan Muslim)”.

             Dari kedua hadist tersebut di atas dapat dipahami bahwa khanduri termasuk salah satu sedekah pada orang meninggal. Artinya khanduri yang dilaksanakan oleh ahli famili yang ditinggalkan oleh simayid akan sampai kepada simayid. Demikian anggapan bagi masyarakat Aceh khususnya bagi masyarakat Kecamatan Seunagan Nagan Raya. Meskipun ada sebagian pendapat para ulama yang menyatakan “bahwa kebaikan yang dikerjakan oleh orang yang masih hidup tidak akan sampai kepada orang yang sudah meninggal, melainkan apa yang telah diusahakannya semasa hidupnya”. Pendapat ini yang termashur dikemukakan oleh Imam Syafi”i. Namun demikian dalam makalah ini tidak mempersoalkan bagaimana hukumnya, atau pertentangan para ulama tentang pelaksanaan khanduri bagi orang yang sudah meninggal. Tapi yang dikaji dalam makalah ini adalah khanduri ditinjau dari aspek epistimologi, antropologi, filosofis, dan aspek psokologis.

            Secara historis khanduri selamatan pada orang yang meninggal dapat kita pahmi bahwa Aceh merupakan kumpulan dari beberapa bangsa yaitu Arab, Cina Eropa, dan Hindia. Hal ini juga menunjukkan bahwa Aceh telah mempengaruhi kehidupan masyarakat dengan empat agama besar yaitu Islam, hindu, Kong Hucu dan agama kristen, meskipun pada akhirnya pengaruh masyarakat Aceh dimenangkan oleh agama Islam.[1] Dalam hal kenduri selamatan kematian banyak dipengaruhi oleh agama Hindu. Hal ini dapat kita lihat acara kenduri selamatan pada hari kesatu, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, keempat puluh atau ke seribu banyak ditemukan di dalam kitab Weda.

            Sementara itu dalam masyarakat Kecamatan Seunagan khanduri pada rumah duka (orang meninggal) sudah merupakan suatu kebiasaan dalam sistem kehidupan masyarakat. Namun yang menjadi pertanyaan dalam hal ini adalah apa makna khanduri nujoh bagi masyarakat Kecamatan Seunagan baik secara epistimologi, antropologi, filosofis, naupun dari segi psikologis.

B.   Rumusan Masalah

            Dari latar belakang masalah di atas dapat dikemukakan beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:

”Apa makna khanduri nujoh bagi masyarakat Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya baik dari segi epistimologi, antropologi, filosofis, maupun dari segi psikologis”.

 C.   Tujuan Penulisan

 Adapun yang menjadi tujuan pembahasan dalam makalan ini adalah: Untuk megetahui makna khanduri nujoh bagi masyarakat Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya baik secara epistimologi, antropologi, filosofis, maupun secara psikologis.

D.  Pengertian Khanduri Nujoh

Istilah khanduri mengandung makna “memberikan sesuatu dengan ikhlas tanpa berharap imbalan apapun”. Jadi khanduri nujoh dapat diartikan dengan menyediakan makanan kepada tamu baik sanak famili, tetangga atau teman dekat yang datang kerumah duka untuk melayat selama tujuh hari.

 E.   Kebiasaan Khanduri Nujoh di Kecamatan Seunagan Nagan Raya

Bila ada seseorang yang meninggal dalam suatu gampong (desa), maka salah seorang ahli warisnya memberitahukan terlebih dahulu kepada teungku. Kemudian mereka menyuruh salah seorang warga kampung untuk membunyiakn tambur sebanyak tiga kali. Dengan demikian seluruh warga kampung akan tahu bahwa di kampung itu ada seseorang yang telah meninggal. Maka seluruh warga kampung sudah menjadi kewajiban adat untuk mengunjunginya dengan membawa uang sedekah ala kadarnya, sebagai tanda berduka cita. Uang sedekah tersebut biasanya tidak langsung diberikan langsung kepada ahli waris si mati, tetapi diletakkan ke dalam beras yang telah disediakan dalam sebuah piring.

Orang yang telah meninggal itu dibaringkan di atas kasur dan diselimuti denga kain batik panjang, sebelum mayat itu dimandikan. Beberapa orang warga kampung pergi menggali lubagn kuburan, sementara mayat di rumah dimandikan oleh teungku. Upacara memandikan mayat dilakukan menurut tradisi yang terdapat dalam agama Islam. Mayat dipangku oleh anak cucunya. Kalau yang meninggal itu orang tua, atau oleh pamannya kalau yang meninggal itu masih anak-anak. Setelah selesai dimandikan kemudian mayat dikapani dengan kain putih, diberi kapas dan cendena. Semua keluarganya dibenarkan untuk melihat terakhir sebelum dibungkus dengan kafan. Setelah mayat dibungkus degnan seksama, lalu disembahyangkan secara berjamaah. Acara sembahyang ini ada yang dilakukan di dalam mesjidm. Setelah selesai acara sembahyang mayat, kemudian dibawa ke kuburan dengan digotong dalam keranda (peti mayat) bersama-sama. Setelah sampai ke tempat penguburan maka diadakan upacara penguburan. Setelah selesai upacara penguburan tadi, mulai malam pertama sampai dengan malam ketiga diadakan samadiah atau tahlil. Pada malam-malam ini hadir semua kerabat dan jiran-jiran setempat. Biasanya acara ini diakhiri dengan acara makan-makan bersama (kenduri) atau cukup minum dan kue-kue saja. Pada mlaam kelima, dan ketujuh diadakan kenduri lagi. Pada malam ini kadang-kadang diadakan acara mengaji (membaca Al Qur’an).

Kita maklumi bahwa apabila seorang Islam meninggal ada empat hal yang harus dilakukan oleh muslim lainnya yaitu: memandikan jenazah, membungkusnya dengan kain kafan, menyembahyangkan dan menguburkan.[2] Sedangkan keluarga yang ditinggalkan berkewajiban melunasi hutang-piutang si mayid. Namun dalam tradisi masyarakat ditambahkan dengan khanduri selama tujuh hari berturut-turut, bahkan juga dilaksanakan pada hari ke 10, 40 dan 100.

Dalam masyarakat Kecamatan Seunagan khanduri tersebut seolah-olah merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Bila hal tersebut tidak dilaksanakan, maka keluarga tersebut akan merasa berdosa, atau malu dengan masyarakat sekitar. Maka dalam hal ini pihak keluarga akan mengeluarkan biaya berapapun untuk khanduri tersebut. Bila simayid atau keluarga yang ditinggalkan tidak memiliki harta, maka untuk biaya khanduri ada yang mengutangnya.

            Selanjutnya selama tujuh hari sanak-famili, teman dekat baik dari jauh maupun yang ada di sekitar akan datang dengan membawa sedekah untuk diberikan kepada keluarga yang ditinngalkan. Bentuk Sedekah yang diberikan bermacam-macam, mulai dari uang, bahan makanan, hingga hewan seperti ayam, kambing, atau bahkan kerbau/lembu. Sementara tuan/ahli rumah menyediakan makanan atau dikenal dengan istilah ”Beuet Boe”. Hal ini kiranya sesuai dengan gambaran dari sebuah syair ”Jamei ’Oh Mate :

Leupah that ramphak bak ureueng mate

Jamei dum ile beungoh ngon sinja

Lam tujoh  uroe riyoh bukonle

Cit hana pre-pre jamei dum teuka

Jeuoh deungon toe kuta deungon gle

Ngon seunang hate kunjong syeedara

Jak saweue rakan-wareh ban mate

Peuet ploh thon akhe meureumpok hana

Di ulontuwan dis’ah lam hate

Bit ureueng mate leupah mulia

Tanda bukeuti jan ureueng mate

Jamei dum ile meubura-bura

Ngon bungong jaroe pisang meutangke

Ruti meusile ladom ba saka

Tan nyang soh jaroe saweue si mate

Nyang na hi Toke geuba beulanja

Sayang syeedara tan geumakeuenle

Gobnyan ka mate geutinggai donya

Tan jeuet meureumpok ngon ureueng mate

Moe beukah hate meuteumeung hana

             Selanjutnya  selama   tujuh  hari  dilaksanakan  samadiah  atau  tahlil,  juga dilaksanakan acara mengaji (membaca Al-Qur’an). Pada malam-malam tersebut hadir para kerabat dan keluarga lingka (jiran). Biasanya pada acara ini diakhiri dengan keunduri (makan bersama) atau cukup minum dan kue-kue, tergantung dari tingkat ekonomi dan kesediaan ahli waris si mati.

 F.    Tinjauan Khanduri Nujoh dari Berbagai Aspek

 Khanduri nujoh sudah merupakan suatu tradisi pada masyarakat Aceh pada umumnya dan khususnya bagi masyarakat Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya. Dari tradisi tersebut tentunya banyak mengandung nilai-nilai yang positif khususnya dalam kehidupan bermasyarakat baik secara filosofis, epistimologi, antropologi, maupun secara psikologis.

1. Aspek Filosofis

Khanduri nujoh atau kenduri selama tujuh hari di rumah duka sudah menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat khususnya di Kecamatan Seunagan secara turun temurun. Selama tujuh hari tersebut diiringi dengan samadiah atau tahlil, dan juga membaca Al-Qur’an dan mendo’akannya. Jadi kenduri tersebut di samping mengandung nilai ibadah juga mengandung nilai-nilai sosial.

Secara filosofis orang yang melayat ke rumah duka akan menjadi amal kebaikan atau memperoleh pahala disisi Allah. Bagi orang yang masih hidup dapat memahami bahwa dirinya akan memperoleh nasib yang sama, untuk itu diharapkan agar mereka dapat memperbanyak amal shaleh, agar siap dalam menghadapi kematian.

Selanjutnya tahlilan pada rumah duka pada hari 1-7 adalah sebuah ritual Islami yang mengandung nilai-nilai filosofis keagamaan. Nilai-nilai filosofis keagamaan, bagi orang Islam yang mengikuti tahlilan, mengucapkannya di mulut dan memaknainya secara mendalam di hati kemudian menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat.  

2. Aspek Psikologis

 Sebagaimana kita maklumi bahwa setiap orang yang mengalami musibah pasti mengalami kesedihan yang mendalam, terutama bila salah satu keluarganya meninggal dunia. Kesedihan yang mendalam terhadap kepergian orang yang dicintainya akan dirasakan selama tujuh hari tersebut. Dengan kedatangan seluruh sanak saudara dari jauh akan dapat menghibur keluarga duka dan sedikit-demi sedikit akan mengurangi kesedihannya.

3.Aspek Antropologi

Sebagaimana telah dikemukakan pada bab sebelumnya bahwa Khaduri Nujoh adalah menyediakan/menyuguhkan makanan kepada tamu baik sanak famili, tetangga atau teman dekat yang datang kerumah duka untuk melayat selama tujuh hari. Kerabat atau tamu yang datang kerumah duka membawa sedikit uang atau bahan makanan untuk dimasak di rumah duka. Hal ini secara antropologi membantu/mengurangi beban keluarga duka yang sedang mengalami musibah. Sebab pada saat itu keluarga duka sedang mengalami kesulitan terutama dari segi ekonomi.

4. Aspek Epistimologi

Pada tradisi khanduri nujoh banyak hal yang dapat dikaji secara keilmuan, seperti aqidah, akhlak, sosial dan ekonomi.

a. Aqidah

            Kematian  merupakan  suatu perkara yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia, melainkan sudah ketentuan dari Allah SWT. Oleh karenanya kematian salah satu musibah yang dirasakan oleh keluarga dengan penuh kesabaran bahwa musibah tersebut datangnya dari Allah SWT.

b. Akhlak

            Ta’ziah adalah salah satu perkara yang dianjurkan kepada setiap muslim guna menghibur keluarga duka yang sedang mengalami musibah dengan meninggalnya salah satu dari keluarganya yang mereka cintai. Hal termasuk salah satu akhklak yang mulia bagi yang melaksanakannya.

c. Sosial

            Manusia sebagai makhluk sosial sudah sepantansnya saling membantu dalam meringankan beban bagi keluarga yang sedang mengalami musibah/atau berduka. Dengan adanya perasaan sosial tersebut terwujudlah rasa kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat dengan tidak membedakan orang kaya dengan orang miskin.

d. Ekonomi

            Dari sisi ekonomi keluarga duka juga akan dapat terbantu dengan membawa sedikit sedekah berupa uang, beras, lauk pauk dan lain sebagainya. Namun disi lain orang kaya dan orang miskin juga terdapat perbedaan dari sisi tradisi khanduri nujoh, salah satu contoh bila orang yang meninggal adalah orang kaya, maka tentunya pada hari khanduri tersebut akan dipotong kerbau atau lembu, dan bila orang yang meninggal tersebut tergolong pada ekonominya lemah maka khandurinya akan dilaksanakan sesuai dengan kemampuanya.

G.  Kesimpulan

  1.  Tradisi khanduri nujoh merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak turun temurun dalam masyarakat khususnya masyarakat Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya.
  2. Dalan tradisi khanduri nujoh banyak nilai-nilai yang positif  bila kita lihat dari segi epistimologi, antropologi, filosofis, naupun dari segi psikologis.

H. Saran

  1. Tradisi khanduri nujoh merupakan salah satu tradisi yang sudah membudaya secara turun temurun dan diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai salah satu ajaran Islam. Oleh karena itu hendaknya tradisi tersebut dapat dijaga dan dipertahankan dari nilai-nilai yang mengandung kemusyrikan.
  2. Tradisi khanduri nujoh yang dilaksanakan hendaknya tidak berlebihan, dan menjauhkan dari kepercayaan-kepercayaan yang dapat merusak iman.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badruddin Husbky, Bid’ah-bid’ah di Indonesia, Jakarta: Gema Insani Press, 2002.

Kamaruzzaman Bustamam, Acehnologi, Banda Aceh: Bandar Publising, 2012.

Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo, Adat Istiadat Masyarakat Aceh Besar, Badan Perpustakaan Provinsi Naggroe Aceh Darussalam, 2006.

Muhaimin AG, Islam dalam Bingkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon Jakarta: Logos, 2001.

Koenjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djamabatan, 2002.


[1]Kamaruzzaman Bustamam, Acehnologi, (Banda Aceh: Bandar Publising, 2012), h. 111.

[2]Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo, Adat Istiadat Masyarakat Aceh Besar, (Badan Perpustakaan Provinsi Naggroe Aceh Darussalam, 2006), h. 108.