1. Pendahuluan
Dalam kehidupan manusia, tingkah laku atau kepribadian merupakan hal yang sangat ‎penting sekali, sebab aspek ini akan menentukan sikap identitas diri seseorang. Baik dan ‎buruknya seseorang itu akan terlihat dari tingkah laku atau kepribadian yang dimilikinya. ‎Oleh karena itu, perkembangan dari tingkah laku atau kepribadian ini sangat tergantung ‎kepada baik atau tidaknya proses pendidikan yang ditempuh.‎
Proses pembentukan tingkah laku atau kepribadian ini hendaklah dimulai dari masa ‎kanak-kanak, yang dimulai dari selesainya masa menyusui hingga anak berumur enam ‎atau tujuh tahun. Masa ini termasuk masa yang sangat sensitif bagi perkembangan ‎kemampuan berbahasa, cara berpikir, dan sosialisasi anak. Di dalamnya terjadilah proses ‎pembentukan jiwa anak yang menjadi dasar keselamatan mental dan moralnya. Pada saat ‎ini, orang tua harus memberikan perhatian ekstra terhadap masalah pendidikan anak dan ‎mempersiapkannya untuk menjadi insan yang handal dan aktif di masyarakatnya kelak. ‎Konsep pendidikan yang tepat untuk diterapkan pada masa ini.
Di dalam lingkungan keluarga, orang tua berkewajiban untuk menjaga, mendidik, ‎memelihara, serta membimbing dan mengarahkan dengan sungguh-sungguh dari tingkah ‎laku atau kepribadian anak sesuai dengan syari’at Islam yang berdasarkan atas tuntunan ‎atau aturan yang telah ditentukan di dalam Al-Qur’an dan hadits. Tugas ini merupakan ‎tanggung jawab masing-masing orang tua yang harus dilaksanakan.‎
Pentingnya pendidikan Islam bagi tiap-tiap orang tua terhadap anak-anaknya didasarkan ‎pada sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam ‎keadaan fitrah. Kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi ‎‎(HR. Bukhari). Hal tersebut juga didukung oleh teori psikologi perkembangan yang ‎berpendapat bahwa masing-masing anak dilahirkan dalam keadaan seperti kertas putih. ‎Teori ini dikenal dengan teori “tabula rasa”, yang mana teori ini berpendapat bahwa ‎setiap anak dilahirkan dalam keadaan bersih; ia akan menerima pengaruh dari luar lewat ‎indera yang dimilikinya. Pengaruh yang dimaksudkan tersebut berhubungan dengan ‎proses perkembangan intelektual, perhatian, konsentrasi, kewaspadaan, pertumbuhan ‎aspek kognitif, dan juga perkembangan sosial. Akan tetapi, perkembangan aspek-aspek ‎tersebut sangat dipangaruhi oleh lingkungan sang anak tersebut.‎
Jadi, karena pengaruh lingkungan atau faktor luar sangat berpengaruh terhadap ‎perkembangan aspek-aspek psikologis sang anak, maka peran pendidikan sangatlah ‎penting dalam proses pembentukan dari tingkah laku atau kepribadiannya tersebut. ‎Dalam hal ini, pendidikan keluarga merupakan salah satu aspek penting, karena awal ‎pembentukan dan perkembangan dari tingkah laku atau kepribadian atau jiwa seorang ‎anak adalah di melalui proses pendidikan di lingkungan keluarga. Dilingkungan inilah ‎pertama kalinya terbentuknya pola dari tingkah laku atau kepribadian seorang anak ‎tersebut. Pentingnya peran keluarga dalam proses pendidikan anak dicantumkan di dalam ‎Al-Qur’an, yang mana Allah SWT berfirman dalam surah Al-Furqan ayat 74, yang ‎artinya sebagai berikut:‎
‎“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-‎isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami ‎imam bagi orang-orang yang bertakwa (Al-Furqan: 74).” ‎
Selanjutnya, berhubungan dengan pentingnya peranan orang tua dalam pendidikan anak ‎di dalam lingkungan keluarga ini juga dijelaskan Allah SWT sesuai dengan firman-Nya ‎didalam surah At-Tahrim ayat 6, yang artinya sebagai berikut sebagai berikut:‎
‎”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang ‎bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, ‎keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka ‎dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (At-Tahrim: 6).”‎
Jadi, di dalam proses pendidikan di dalam lingkungan keluarga, masing-masing orang tua ‎memiki peran yang sangat besar dan penting. Dalam hal ini, ada banyak aspek ‎pendidikan sangat perlu diterapkan oleh masing-masing orang tua dalam hal membentuk ‎tingkah laku atau kepribadian anaknya yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan ‎Hadits Rasulullah SAW. Diantara aspek-aspek tersebut adalah pendidikan yang ‎berhubungan dengan penanaman atau pembentukan dasar keimanan (akidah), ‎pelaksanaan ibadah, akhlak, dan sebagainya.‎
2. Konsep Pendidikan Islam ‎
Menurut konsep dalam Islam, proses tarbiyah (pendidikan) mempunyai tujuan untuk ‎melahirkan suatu generasi baru dengan segala ciri-cirinya yang unggul dan beradab. ‎Penciptaan generasi ini dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketulusan yang ‎sepenuhnya dan seutuhnya kepada Allah SWT melalui proses tarbiyah. Melalui proses ‎tarbiyah inilah, Allah SWT telah menampilkan peribadi muslim yang merupakan uswah ‎dan qudwah melalui Muhammad SAW. Peribadinya merupakan manifestasi dan jelmaan ‎dari segala nilai dan norma ajaran Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW.‎
Islam menghendaki program pendidikan yang menyeluruh, baik menyangkut aspek ‎duniawi maupun ukhrowi. Dengan kata lain, pendidikan menyangkut aspek-aspek rohani, ‎intelektual dan jasmani. Maka hal ini, proses pendidikan sangat didukung banyak aspek, ‎terutama guru atau pendidik, orang tua, dan juga lingkungan.‎
Lingkup materi pendidikan Islam secara lengkap dikemukakan oleh Heri Jauhari Muchtar ‎dalam bukunya “Fikih Pendidikan”, sebagaimana dikutip dalam Sismanto (2008), ‎yangmenyatakan bahwa pendidikan Islam itu mencakup aspek-aspek sebagai berikut:‎
Pendidikan keimanan (Tarbiyatul Imaniyah), Pendidikan moral/akhlak ((Tarbiyatul, ‎Khuluqiyah), Pendidikan jasmani (Tarbiyatul Jasmaniyah), Pendidikan rasio (Tarbiyatul ‎Aqliyah), Pendidikan kejiwaan/hati nurani (Tarbiyatulnafsiyah), Pendidikan ‎sosial/kemasyarakatan (Tarbiyatul Ijtimaiyah), Pendidikan seksual (Tarbiyatul ‎Syahwaniyah)‎
Secara umum, keseluruhan ruang lingkup materi pendidikan Islam yang tercantum di ‎atas, dapat dibagi manjadi 3 materi pokok pembahasan. Ketiga pokok bahasan tersebut ‎yakni; Tarbiyah Aqliyah (IQ learning), Tarbiyyah Jismiyah (Physical learning), dan ‎Tarbiyatul Khuluqiyyah (SQ learning).‎
Pertama, adalah Tarbiyah Aqliyah (IQ learning). Tarbiyah aqliyah atau sering dikenal ‎dengan istilah pendidikan rasional (intellegence question learning) merupakan pendidikan ‎yang mengedapan kecerdasan akal. Tujuan yang diinginkan dalam pendidikan itu adalah ‎bagaimana mendorong anak agar bisa berfikir secara logis terhadap apa yang dlihat dan ‎diindra oleh mereka. Input, proses, dan output pendidikan anak diorientasikan pada rasio ‎‎(intellegence oriented), yakni bagaimana anak dapat membuat analisis, penalaran, dan ‎bahkan sintesis untuk menjustifikasi suatu masalah. Misalnya melatih indra untuk ‎membedakan hal yang di amati, mengamati terhadap hakikat apa yang di amati, ‎mendorong anak bercita-cita dalam menemukan suatu yang berguna, dan melatih anak ‎untuk memberikan bukti terhadap apa yang mereka simpulkan.‎
Kedua, Tarbiyyah Jismiyah (Physical learning). Yaitu segala kegiatan yang bersifat fisik ‎dalam ranhgka mengembangkan aspek-aspek biologis anak tingkat daya tubuh sehingga ‎mampu untuk melaksanakan tugas yang di berikan padanya baik secara individu ataupun ‎sosial nantinya, dengan keyakinan bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang ‎sehat “al-aqlussalim fi jismissaslim“ sehingga banyak di berikan beberapa permainan ‎oleh mereka dalam jenis pendidikan ini.‎
Dan ketiga, Tarbiyatul Khuluqiyyah (SQ learning) Makna tarbiyah khuluqiyyah disini di ‎artikan sebagai konsistensi seseorang bagaimana memegang nilai kebaikan dalam situasi ‎dan kondisi apapun dia berada seperti; kejujuran, keikhlasan, mengalah, senang bekerja ‎dan berkarya, kebersihan, keberanian dalam membela yang benar, bersandar pada diri ‎sendiri (tidak bersandar pada orang lain), dan begitu juga bagaimana tata cara hidup ‎berbangsa dan bernegara.‎
Oleh sebab itu maka pendidikan akhlak tidak dapat di jalankan dengan hanya ‎menghapalkan saja tentang hal baik dan buruk, tapi bagaimana menjalankannya sesuai ‎dengan nilai nilainya. Ada beberapa bagian dalam hal ini antara lain Mengumpulkan ‎mereka dalam satu kelompok yang berbeda karakter; Membantu mereka untuk ‎menemukan jati dirinya dengan memberikan pelatihan, ujian, dan tempaaan; Membentuk ‎kepribadian/ mendoktrin dengan selalu menjahui hal yang jelek dan berpegang teguh ‎terhadap nilai kebaikan.‎
3. Pendidikan Keluarga dalam Pandangan Islam ‎
Pendidikan keluarga adalah pendidikan yang diproses oleh seseorang di dalam ‎lingkungan rumah tangga atau keluarga. Sistem pendidikan ini merupakan unsur utama ‎dalam pendidikan seumur hidup, terutama karena sifatnya yang tidak memerlukan ‎formalitas waktu, cara, usia, fasilitas, dan sebagainya. Pada dasarnya, masing-masing ‎orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab atas pendidikan bagi anak-‎anaknya. Mereka tidak hanya berkewajiban mendidik atau menyekolahkan anaknya ke ‎sebuah lembaga pendidikan. Akan tetapi mereka juga diamanati Allah SWT untuk ‎menjadikan anak-anaknya bertaqwa serta taat beribadah sesuai dengan ketentuan yang ‎telah diatur dalam Al-Qur’an dan Hadits.‎
Jadi, orang tua tidak seharusnya hanya menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anak ‎mereka kepada pihak lembaga pendidikan atau sekolah, akan tetapi mereka harus lebih ‎memperhatikan pendidikan anak-anak mereka di lingkungan keluarga mereka, karena ‎keluarga merupakan faktor yang utama di dalam proses pembetukan kepribadian sang ‎anak. Hal ini sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah yang mana beliau ‎telah berhasil mendidik keluarga, anak-anak, serta para sahabatnya menjadi orang-orang ‎yang sukses dunia-akhirat, walaupun beliau tidak pernah mengikuti jenjang pendidikan ‎formal seperti lembaga-lembaga sekolah.‎
Peran Pendidikan Islam Dalam Pembentukan Kepribadian Anak dalam Lingkungan ‎Keluarga
Pendidikan orang terhadap anak dalam lingkungan keluarga sangat penting, apalagi pada ‎periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama). Aisyah Abdurrahman ‎Al Jalal, Al Muatstsirat as Salbiyah, sebagaimana dikutip dalam Al-Hasan, Yusuf M. ‎‎(2007), yang menyatakan bahwa periode ini merupakan periode yang amat kritis dan ‎paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam ‎pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periode ini, nanti ‎akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengannyata pada kepribadiannya ketika menjadi ‎dewasa.‎
Salah satu dasar pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak adalah sabda ‎Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. ‎Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi (HR. Bukhari). ‎Berdasarkan Hadits ini, jelas sekali bahwa anak dilahirkan dalam keadaan suci seperti ‎kertas putih yang belum terkena noda. Anak adalah karunia Allah yang tidak dapat dinilai ‎dengan apa pun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Ia akan berkembang ‎sesuai dengan pendidikan yang diperoleh dari kedua orang tuanya dan juga lingkungan ‎disekitarnya.‎
Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, kadang-kadang muncul persoalan ‎baru. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh ‎berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan ‎lingkungan masyarakat di sekelilingnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. ‎Perilakunya kadang-kadang menjadi semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah ‎menjadi kejahatan, dan orang tua pun selalu cemas memikirkanya. Maka dalam hal ini, ‎peranan orang tua sangat berpengaruh penting. Jadi, Pentingnya peranan orang tua dalam ‎pendidikan anak ini disebabkan oleh karena pendidikan yang diperoleh anak dari ‎pengalaman sehari-hari dengan sadar pada umumnya tidak teratur dan tidak sistematis.‎
4. Upaya-upaya Orang Tua dalam Mendidik Anak ‎
Memang usaha orang tua dalam upaya mendidik anak tidaklah semudah membalik ‎tangan. Perlu kesabaran dan kreativitas yang tinggi dari pihak orang tua. Secara umum, ‎dalam hal ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua muslim dalam ‎mendidik anak:‎
Orang tua perlu memahami tentang apa yang dimaksud dengan pendidikan anak dan ‎tujuannya.‎
Banyak menggali informasi tentang pendidikan anak.‎
Memahami kiat mendidik anak secara praktis. Dengan demikian setiap gejala dalam ‎tahap-tahap pertumbuhan pertumbuhan anak dapat ditanggapi dengan cepat. Sebelum ‎mentransfer nilai, kedua orang tua harus melaksanakan lebih dulu dalam kehidupan ‎sehari-hari. Karena di usia kecil, anak-anak cerdas cenderung meniru dan merekam ‎segala perbuatan orang terdekat. Bersegera mengajarkan dan memotivasi anak untuk ‎menghafal Al- Quran. Kegunaannya di samping sejak dini mengenalkan Yang Maha ‎Kuasa pada anak, juga untuk mendasari jiwa dan akalnya sebelum mengenal pengetahuan ‎yang lain. Menjaga lingkungan si anak, harus menciptakan lingkungan yang sesuai ‎dengan ajaran yang diberikan pada anak.‎
Akan tetapi, dalam mendidik anak orang tua hendaknya berperan sesuai dengan ‎fungsinya. Masing-masing saling mendukung dan membantu. Bila salah satu fungsi ‎rusak, anak akan kehilangan identitas. Pembagian tugas dalam Islam sudah jelas, peran ‎ayah tidak diabaikan, tapi peran ibu menjadi hal sangat penting dan menentukan.‎
5. Kiat-kiat Praktis Mendidik Anak
Pendidikan anak akan berhasil bila diwujudkan dengan mengikuti langkah-langkah ‎kongkrit dalam hal penanaman nilai-nilai Islam pada diri anak. Sehubungan dengan hal ‎ini, Abdurrah-man An-Nahlawi mengemukakan tujuh kiat dalam mendidik anak, yaitu:‎
5.1.Dengan Hiwar (dialog)‎
Mendidik anak dengan hiwar (dialog) merupakan suatu keharusan bagi orang tua. Oleh ‎karena itu kemampuan berdialog mutlak harus ada pada setiap orang tua. Dengan hiwar, ‎akan terjadi komunikasi yang dinamis antara orang tua dengan anak, lebih mudah ‎dipahami dan berkesan. Selain itu, orang tua sendiri akan tahu sejauh mana ‎perkembangan pemikiran dan sikap anaknya.‎
Dalam mendidik umatnya, Rasulullah SAW sering menggunakan metode ini. Anak-anak ‎sering menanyakan: apa betul Allah itu ahad, katanya Tuhan itu ada di mana-mana. Pada ‎usia remaja atau dewasa, dialog dengan orang tua itu sangat diperlukan dalam ‎menghadapi persoalan hidup yang semakin kompleks seiring dengan lingkungan anak ‎yang semakin luas.‎
5.2.Dengan Kisah
Kisah memiliki fungsi yang sangat penting bagi perkembangan jiwa anak. Suatu kisah ‎bisa menyentuh jiwa dan akan memotivasi anak untuk merubah sikapnya. Kalau kisah ‎yang diceriterakan itu baik, maka kelak ia berusaha menjadi anak baik, dan sebaliknya ‎bila kisah yang diceriterakan itu tidak baik, sikap dan perilakunya akan berubah seperti ‎tokoh dalam kisah itu.‎
Banyak sekali kisah-kisah sejarah, baik kisah para nabi, sahabat atau orang-orang shalih, ‎yang bisa dijadikan pelajaran dalam membentuk kepribadian anak. Contohnya, banyak ‎anak-anak jadi malas, tidak mau berusaha dan mau terima beres. Karena kisah yang ‎menarik baginya adalah kisah khayalan yang menampilkan pribadi malas tetapi selalu ‎ditolong dan diberi kemudahan.‎
5.3. Dengan Perumpamaan ‎
Al-Qur`an dan al-hadits banyak sekali mengemukakan perumpamaan. Jika Allah SWT ‎dan Rasul-Nya mengungkapkan perumpamaan, secara tersirat berarti orang tua juga ‎harus mendidik anak-anaknya dengan perumpamaan. Sebagai contoh, orang tua berkata ‎pada anaknya, “Bagaimana pendapatmu bila ada seorang anak yang rajin shalat, giat ‎belajar dan hormat pada kedua orang tuanya, apakah anak itu akan disukai oleh ayah dan ‎ibunya?” Tentu si anak berkata, “Tentu, anak itu akan disukai oleh ibunya.” ‎
Dari ungkapan seperti itu, orang tua bisa melanjutkan arahan terhadap anak-anaknya ‎sampai sang anak betul-betul bisa menyadari, bahwa kalau mau disukai orang tuanya ‎yang harus dilakukan sang anak adalah rajin shalat, giat belajar dan hormat pada ‎keduanya. Begitu seterusnya dengan persoalan-persoalan lain. ‎
5.4.Dengan Keteladanan ‎
Orang tua merupakan pribadi yang sering ditiru anak-anaknya. Kalau perilaku orang tua ‎baik, maka anaknya meniru hal-hal yang baik dan bila perilaku orang tuanya buruk, maka ‎bisanya anaknya meniru hal-hal buruk pula. Dengan demikian, keteladanan yang baik ‎merupakan salah satu kiat yang harus diterapkan dalam mendidik anak.‎
Kalau orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi anak shaleh, maka yang harus ‎shalih duluan adalah orang tuanya. Sebab, dari keshalehan mereka, anak-anak akan ‎meniru, dan meniru itu sendiri merupakan gharizah (naluri) dari setiap orang. ‎
5.5.Dengan Latihan dan Pengamalan
Anak shalih bukan hanya anak yang berdoa untuk orang tuanya. Anak shalih adalah anak ‎yang berusaha secara maksimal melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. ‎Untuk melaksanakan ajaran Islam, seorang anak harus dilatih sejak dini dalam praktik ‎pelaksanaan ajaran Islam seperti shalat, puasa, berjilbab bagi yang puteri, dan ‎sebagainya.‎
Tanpa latihan yang dibiasakan, seorang anak akan sulit mengamalkan ajaran Islam, ‎meskipun ia telah memahaminya. Oleh karena itu seorang ibu harus menanamkan ‎kebiasaan yang baik pada anak-anaknya dan melakukan kontrol agar sang anak disiplin ‎dalam melaksanakan Islam.‎
5.6.Dengan ‘Ibrah dan Mauizhah
Dari kisah-kisah sejarah, para orang tua bisa mengambil pelajaran untuk anak-anaknya. ‎Begitu pula dengan peristiwa aktual, bahkan dari kehidupan makhluk lain banyak sekali ‎pelajaran yang bisa diambil.Bila orang tua sudah berhasil mengambil pelajaran dari suatu ‎kejadian untuk anak-anaknya, selanjutnya pada mereka di-berikan mau’izhah (nasihat) ‎yang baik.‎
Misalnya dengan iman yang kuat, umat Islam yang sedikit, mampu mengalahkan orang ‎kafir yang banyak di perang Badar. Sesuatu yang berat dan besar bisa dipindahkan, bila ‎kita bekerjasama seperti semut-semut bergotong-royong membawa sesuatu, dan begitulah ‎seterusnya.‎
Memberi nasihat itu tidak selalu harus dengan kata-kata. Melalui kejadian-kejadian ‎tertentu yang menggugah hati, juga bisa menjadi nasihat, seperti menjenguk orang sakit, ‎ta’ziyah pada orang yang mati, ziarah ke kubur, dan sebagainya.‎
5.7.Dengan Targhib dan Tarhib ‎
Targhib adalah janji-janji menyenangkan bila seseorang melakukan kebaikan, sedang ‎tarhib adalah ancaman mengerikan bagi orang yang melakukan keburukan. Banyak sekali ‎ayat dan hadits yang mengungkapkan janji dan ancaman. Itu artinya orang tua juga mesti ‎menerapkannya dalam pendidikan anak-anaknya.‎
Dalam Islam, targhib dan tarhib dikaitkan dengan persoalan akhirat, yaitu surga dan ‎neraka. Sehingga, sikap yang lahir dari sang anak melalui metode ini lebih kokoh karena ‎terkait dengan iman kepada Allah dan Hari Akhir. Metode ini dimaksudkan untuk ‎menggugah dan mendidik manusia agar memiliki perasaan robbaniyah, seperti khauf ‎‎(takut) pada Allah, khusyu’ (merendahkan diri) di hadapan Allah, mahabbah (cinta) ‎kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.‎
Berdasarkan uraian di atas, jelas sekali bahwa proses pendidikan anak agar menjadi anak ‎yang shalih, memerlukan perhatian serius dari masing-masing orang tua, terutama para ‎ibu. Oleh karena itu, kedua orang tua harus bersepakat dalam merumuskan detail ‎pengaplikasian konsep dan program pendidikan yang ingin mereka terapkan sesuai ‎dengan garis-garis besar konsep keluarga Islami. Kesepakatan antara kedua orang tua ‎dalam perumusan ini akan menciptakan keselarasan dalam pola hubungan antara mereka ‎berdua dan antara mereka dengan anak-anak.‎
Keselarasan ini menjadi amat penting karena akan menghindarkan ketidakjelasan arah ‎yang mesti diikuti oleh anak dalam proses pendidikannya. Jika ketidakjelasan arah itu ‎terjadi, anak akan berusaha untuk memuaskan hati ayah dengan sesuatu yang kadang ‎bertentangan dengan kehendak ibu atau sebaliknya. Anak akan memiliki dua tindakan ‎yang berbeda dalam satu waktu. Hal itu dapat membuahkan ketidakstabilan mental, ‎perasaan, dan tingkah laku sang anak.‎
Dalam mendidik anak, penghargaan dan hukuman kadang-kadang juga sangat diperlukan ‎dalam mendidik anak. Penghargaan boleh saja diberikan pada anak jika mencapai suatu ‎hasil atau prestasi yang baik. Fungsinya untuk mendidik dan memotivasi anak untuk ‎dapat mengulangi kembali tingkah laku yang baik itu. Penghargaan yang diberikan ‎kepada anak dapat berupa pujian, bingkisan, pengakuan atau perlakuan istimewa.‎
Sebaliknya, hukuman merupakan sangsi fisik atau psikis yang hanya boleh diberikan ‎ketika anak melakukan kesalahan dengan sengaja. Rasulullah memerintahkan kepada ‎orang tua memukul anaknya ketika telah berumur 10 tahun masih juga lalai shalat. Tentu ‎saja dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Hukuman yang diberikan haruslah ‎proporsional (sesuai) dengan kesalahan anak. Berat ringannya hukuman disesuaikan ‎dengan besar kecilnya kesalahan, dan disesuaikan pula dengan kemampuan anak ‎melaksanakan hukuman tersebut. Menghukum anak yang memecahkan gelas misalnya, ‎harus berbeda dengan anak yang melailaikan shalat. Artinya, pelanggaran syar’i harus ‎mendapat porsi hukuman khusus (lebih berat misalnya) dibandingkan kesalahan teknis ‎yang tidak terlalu penting. Hikmah dari pendidikan melalui hukuman ini diantaranya ‎adalah untuk melatih disiplin dan mengenalkan anak pada konsep balasan setiap amal ‎perbuatan. Jika anak terlatih sejak kecil untuk berhati-hati dengan larangan dan sungguh-‎sungguh melaksanakan kewajiban, maka akan memudahkan baginya untuk berbuat ‎seperti itu ketika ia dewasa. Tampaklah bahwa hukuman pun bermanfaat untuk melatih ‎dan menanamkan rasa tanggungjawab dalam diri anak.‎
6. Kendala atau Tantangan dalam Mendidik Anak ‎
Dalam mendidik anak setidaknya ada dua macam kendala atau tantangan: yakni ‎tantangan yang bersifat internal dan yang bersifat eksternal. Sumber tantangan internal ‎yang utama adalah orangtua itu sendiri, misalnya ketidakcakapan orangtua dalam ‎mendidik anak atau ketidak harmonisan rumah tangga. Sunatullah telah menggariskan, ‎bahwa pengembangan kepribadian anak haruslah berimbang antara fikriyah (pikiran), ‎ruhiyah (ruh), dan jasadiyahnya (jasad). Tantangan eksternal mungkin bersumber dari ‎lingkungan rumah tangga, misalnya interaksi dengan teman bermain dan kawan ‎sebayanya. Di samping itu peranan media massa sangat pula berpengaruh dalam ‎perkembangan tingkah laku atau kepribadian anak. Informasi yang disebarluaskan media ‎massa baik cetak maupun elektronik memiliki daya tarik yang sangat kuat.‎
Kedua tantangan ini sangat mempengaruhi perkembangan tingkah laku atau kepribadian ‎anak. Lingkungan yang tidak islami dapat melunturkan nilai-nilai islami yang telah ‎ditanamkan di rumah. Jadi, jika orang tua tidak mengarahkan dan mengawasi dengan ‎baik, maka si anak akan menyerap semua informasi yang ia dapat, tidak hanya yang baik ‎bahkan yang merusak akhlak.‎
Meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, orang ‎tua tetap memegang peranan yang amat dominan. Dalam mendidik anak orang tua ‎hendaknya berperan sesuai dengan fungsinya. Masing-masing saling mendukung dan ‎membantu. Bila salah satu fungsi rusak, anak akan kehilangan identitas. Pembagian tugas ‎dalam Islam sudah jelas, peran ayah tidak diabaikan, tapi peran ibu menjadi hal sangat ‎penting dan menentukan.‎
Oleh karena itu, hanya ada satu cara agar anak menjadi permata hati dambaan setiap ‎orang tua, yaitu melalui pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai Islam. Islam telah ‎memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak anak ‎masih berada dalam kand
ungan. Jika anak sejak dini telah mendapatkan pendidikan Islam, Insya allah ia akan ‎tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta berbakti kepada orang ‎tuanya.‎
Akan tetapi, upaya dalam mendidik atau membentuk tingkah laku atau kepribadian ‎kepribadian anak dalam naungan Islam memang sering mengalami beberapa kendala. ‎Perlu disadari disini, betapa pun beratnya kendala ini, namun hendaknya orang tua ‎menghadapinya dengan sabar dan menjadikan kendala-kendala tersebut sebagai ‎tantangan dan ujian.‎