Keluarga dapat ditinjau dari dimensi hubungan darah dan hubungan sosial. Keluarga ‎dalam dimensi hubungan darah merupakan suatu kesatuan sosial yang diikat oleh ‎hubungan darah antara satu dengan lainnya. Berdasarkan dimensi hubungan darah ini, ‎keluarga dapat dibedakan menjadi keluarga besar dan keluarga inti. Sedangkan dalam ‎dimensi hubungan sosial, keluarga merupakan suatu kesatuan sosial yang diikat oleh ‎adanya saling berhubungan antara interaksi dan saling mempengaruhi antara satu dengan ‎yang lainnya, walaupun di antara mereka tidak terdapat hubungan darah. Keluarga ‎berdasarkan dimensi hubungan sosial ini dinamakan keluarga psikologis dan keluarga ‎pedagogis.‎
Dalam pengertian psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama ‎dalam tempat tinggal dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin ‎sehingga terjadi saling mempengaruhi, saling memperhatikan, dan saling menyerahkan ‎diri. Sedangkan dalam pengertian pedagogis, keluarga adalah “satu” persekutuan hidup ‎yang dijalin oleh kasih sayang antara pasangan dua jenis manusia yang dikukuhkan ‎dengan pernikahan, yang dimaksud untuk saling menyempurnakan diri. Dalam usaha ‎saling melengkapi dan saling menyempurnakan diri itu terkadang perealisasian peran dan ‎fungsi sebagai orang tua.‎
Dalam berbagai dimensi dan pengertian keluarga tersebut, esensi keluarga (ibu dan ayah) ‎adalah kesatuan dan ke satu tujuan adalah keutuhan dalam mengupayakan anak untuk ‎memiliki dan mengembangkan sikap disiplin.‎
Keutuhan orang tua (ayah dan ibu) dalam sebuah keluarga sangat dibutuhkan dalam ‎membantu anak untuk memiliki dan mengembangkan sikap disiplin. Keluarga yang ‎‎“utuh” memberikan peluang besar bagi anak untuk membangun kepercayaan terhadap ‎kedua orang tuanya yang merupakan unsur esensial dalam membantu anak memiliki dan ‎mengembangkan sikap disiplin. Kepercayaan dari orang tua yang dirasakan oleh anak ‎akan mengakibatkan arahan, bimbingan, dan bantuan orang tua yang diberikan kepada ‎anak dan “menyatu” dan memudahkan anak untuk menangkap makna dari upaya yang ‎dilakukan.‎
Sesungguhnya dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah Saw bersama dengan istrinya ‎yang tercinta terdapat nilai-nilai pendidikan/bimbingan yang sangat mendasar untuk ‎dijadikan pedoman dalam rumah tangga bagi segenap masyarakat muslim guna mencapai ‎kehidupan keluarga yang ideal dan sakinah. Semakin dikaji tentang kehidupan rumah ‎tangga Rasulullah Saw, maka semakin nampak pula pelajaran yang berharga bagi kita ‎dalam upaya membina sebuah keluarga.‎
Jika rumah tangga, masyarakat dan sekolah adalah sendi bimbingan insani, maka rumah ‎tangga merupakan pemberi pengaruh utama yang lebih kuat di samping di sekolah atau ‎dalam masyarakat. Sebagai pemimpin, orang tua harus mampu menuntun, mengarahkan, ‎mengawasi, mempengaruhi dan menggerakkan si anak agar penuh dengan gairah untuk ‎memberikan motivasi pada anak. Sebaiknya orang tua harus mampu berkomunikasi ‎sehingga muncul kepercayaan timbal balik dengan anak. ‎
Sebenarnya orang tua tahu persis tentang anaknya. Dari pengalaman sejak bayi lahir ‎hingga masa anak-anak kita sudah mengetahui kelebihan dan kekurangannya, jadi ‎diperlukan keluwesan untuk mengubah tingkah laku agar mau berprestasi. Orang tua ‎‎ harus terus menerus memperhatikan perkembangan anak.‎
Keluarga dapat menciptakan suasana nyaman di rumah agar anak merasa betah berada di ‎dekat pemimpinnya. Ciptakan rasa aman dalam dirinya, jangan sampai anak kita merasa ‎lebih aman berada di lingkungan teman-temannya ketimbang di lingkungan keluarganya. ‎