Pembelajaran Pendidikan Agama Tingkat SLTP

Oleh : Ibnu Hajar, S.Ag

Pendahuluan

Pendidikan agama merupakan usaha sadar yang diberikan oleh orang dewasa terhadap anak didik agar dapat bertaqwa kepada Allah SWT, dan bermanfaat bagi dirinya dan untuk dapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.1
Dalam hal ini tidak hanya tanggung jawab Sekolah, melainkan orang tua dan masyarakat juga harus bertanggung jawab mengenai pelaksanaan pendidikan Aagama. Baik di tingkat dasar maupun tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Sebab pendidikan agama sangat komplek dan menyeluruh. Yaitu meliputi hubungan dengan Allah SWT (Ibadah), hubungan dengan sesama manusia (Mu’amalah), serta hubungan manusia dengan alam lingkungan.

Dengan demikian pendidikan agama mencakup kehidupan manusia seutuhnya, tidak hanya memperhatikan segi aqidah saja juga tidak memperhatikan segi ibadah saja, tidak pula segi akhkak saja. Akan tetapi jauh lebih luas dan mendalam dari pada itu. Secara garis besar dapat dikemukan bahwa tujuan pendidikan agama meliputi pembinaan manusia agar menjadi hamba Allah yang saleh dengan seluruh aspek kehidupannya.2

Berdasarkan ayat di atas, dapat dipahami bahwa setelah proses mengajar belajar berlangsung diharapkan agar siswa dapat menjadi hamba yang saleh, artinya tunduk dan patuh pada perintah Allah SWT, dimanapun mereka berada.

Oleh karena itu pendidikan agama dalam proses pembelajarannya, siswa tidak hanya dituntut untuk mendapatkan nilai yang tinggi dalam ujian, akan tetapi yang paling utama adalah kemampuan dan kemauan siswa itu sendiri untuk menerapkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupannya sehari-hari.

Untuk mewujudkan harapan di atas guru agama harus mampu menggunakan berbagai bentuk strategi pembelajaran sehingga pembelajaran pendidikan agama Islam di berbagai jenjang sekolah dapat mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan.
PEMBAHASAN

Dasar Dan Tujuan Pembelajaran Agama Islam
Islam adalah agama Allah yang diturunkan kepada Rasul/Nabi sejak Nabi Adam as. Sampai kepada Nabi/Rasul Muhammad SAW., yang berisi ajaran tentang hidup dan kehidupan umat manusia. Sebelum Rasul Muhammad SAW diutus kepermukaan bumi ajaran agama masih berwujud prinsip-prinsip (pokok-pokok) yang isi dan pelaksanaannya sesuai dengan keadaan dan kebutuhan umat daerah tertentu, maka pada masa Rasul Muhammad SAW prinsi-prinsip (pokok-pokok) ajaran disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan umat secara keseluruhan dan berlaku pada segala masa dan tempat.1
Islam sebagai nama agama untuk masa sekarang adalah untuk nama agama yang dibawa oleh Rasul Muhammad SAW adalah agama yang ajaran-ajarannya melengkapi/menyempurnakan ajaran-ajaran agama yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul sebelumnya. Agama Islam mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam sekitarnya yang menyangkut bidang aqidah, syari’ah dan akhlak atau iman, Islam dan ihsan.
Ajaran Islam memuat tentang hidup dan kehidupan manusia seluruhnya, maka nama Islam pemakaiannya untuk agama yang diturunkan kepada Nabi/Rasul Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah SWT. Yang berbunyi :
ان لدين عند الله اسلام….. (ال امرن : ١٩)
Artinya : “Sesungguhnya agama disisi Allah ialah Islam”. (Q.S. Ali-Imran : 19).
Dari firman Allah SWT di atas dapat dipahami bahwa Islam sebagai agama adalah yang dibawa oleh Nabi/Rasul Muhammad SAW., karena agama-agama sebelumnya tidak berlaku lagi setelah turun ajaran agama yang dibawa oleh Nabi/Rasul Muhammad SAW. Hal ini berarti agama Islam satu-satu nya agama yang dapat membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat.
Firman Allah SWT :
و من يبتغ غير الاسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الا خرة من الخسرين. (ال عمرن : )
Artinya : “ Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidaklah sekali-kali diterima yang demikian itu dari padanya, dan dia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi”. (Q.S. Ali-Imran : 85).
Dari firman Allah tersebut dapat kita pahami bahwa yang menjadi tujuan utama pendidikan Islam adalah mendidik manusia untuk dapat hidup bahagia dunia dan akhirat kelak. Karena ajaran Islam memuat tentang tata hidup yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia maka berarti ajaran Islam berisi pedoman-pedoman pokok yang harus digunakan dan untuk menyiapkan kehidupan yang sejahtera di dunia dan akhirat. Dengan demikian berarti bahwa ruang lingkup ajaran agama Islam itu luas sekali yaitu meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Selanjutnya tujuan pendidikan agama Islam identik dengan tujuan hidup. Secara umum dalam Al-Qur’an dinyatakan dalam Firman-Nya:
وماخلقت الجن ولانس الا ليعبدون .(الزاريات : ٥٦ )
Artinya : “Dan Aku (Allah) tidak menjadikan jin dan manusia, melainkan untuk menyembah Aku”. (Q.S. Adzariyat : 56).
Dari firman Allah ini kita dapat memahami secara mendalam bahwa menyembah Allah itu melengkapi semua ketaatan dan kedudukan kepada semua perintah Illahi, yang membawa kepada kebesaran dunia dan kemenangan akhirat, serta menjauhkan dari segala larangan-larangan yang menghalang-halangi tercapainya kemenagan dunia dan akhirat. Akan menjadi orang yang memperhambakan segenap rohani dan jasmaninya kepada Allah SWT., untuk kemenagan dirinya dalam srti yang seluas-luasnya yang dapat dicapai oleh manusia. Itulah tujuan hidup manusia di atas dunia dan itu pula yang menjadi tujuan didikan yang harus kita berikan kepada anak sebagai generasi penerus bangsa.
Selanjutnya memperhambakan diri kepada Allah SWT untuk mencari keredhaan Ilahi merupakan tujuan umum dari risalah. Dengan demikian hal itupun merupakan tujuan umum yang hendak dicapai oleh pendidikan dan pengajaran agama Islam. Tujuan umum tersebut dapat dijabarkan ke dalam tiga aspek yaitu sebagai berikut :
1. Menyempurnakan hubungan manusia dengan Khaliknya
Hal ini berarti semakin dekat dan terpeliharanya hubungan dengan Khaliknya akan semakin tumbuh dan berkembang keimanan seseorang dan semakin terbuka pulalah kesadaran akan penerimaan rasa ketaatan dan ketundukan kepada segala perintah dan larangan-Nya, sehingga peluang untuk memperoleh kejayaan akan semakin terbuka baik di dunia maupun di akhirat kelak.
2. Menyempurnakan hubungan manusia dengan sesamanya
Memelihara, memperbaiki dan meningkatkan hubungan antar manusia dan lingkungan merupakan upaya manusia yang harus senantiasa dikembangkan secara terus menerus. Disinilah terjadi interaksi antara sesama manusia, baik dengan muslim maupun bukan, sehingga tanpak betapa citra Islam dalam masyarakat yang ditunjukkan oleh tingkah laku para pemeluknya.
3. Mewujudkan keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara hubungan
dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia.
Kedua hubungan tersebut di atas oleh manusia harus dapat mengaktifkan kedua-duanya sejalan dan berjalin dalam diri pribadi. Ini berarti upaya yang terus menerus untuk mengenal dan memperbaiki diri. Upaya untuk mengenal, memperbaiki diri dan mengaktualisasikan kedua aspek tersebut di atas secara serasi, seimbang dan selaras dalam bentuk tindakan dan kegiatan sehari-hari memberi petunjuk atas sejauhmana tingkat hamba Allah itu telah dicapai oleh seseorang.
Selanjutnya perwujudan ketiga penjabaran di atas dalam diri seseorang hanya dimungkinkan dengan penguasaan ilmu. Tanpa ilmu berarti seseorang itu belum siap atau belum patut untuk menyandang gelar hamba Allah. Dengan demikian maka Ilmu yang dimaksudkan disini adalah ilmu pengetahuan agama yang dapat membentuk dirinya menjadi hamba Allah guna mencapai keredhaan Allah dalam kehidupan dunia dan akhirat kelak.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah membina manusia beragama, yang berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercemin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup dan kejayaan hidup dunia dan akhirat.

Tugas dan Kewajiban Guru Agama Islam
Guru sesuai dengan tugas dan fungsinya di sekolah yaitu sebagai pelaksana pengajaran di dalam kelas sehari-hari, baik ia sebagai guru kelas/wali kelas atau guru penanggung jawab bidang studi. Tugas yang dibebankan kepada guru tersebut tentunya tidak terlepas dari tujuan pengajaran yang telah ditetapkan yang harus dicapai dalam waktu yang telah ditentukan. Namun tugas guru agama lebih berat dibandingkan dengan tugas guru bidang studi umum lainnya. Hal ini dikarenakan tugas dan tanggung jawab guru agama tidak hanya bertanggung jawab pada atasan atau kepala sekolah saja melainkan juga bertanngung jawab kepada Allah SWT.
Selanjutnya guru-guru yang melaksanakan tugas pembinaan, pendidikan, dan pengajaran tersebut adalah orang-orang yang telah dibekali dengan pengetahuan tentang anak didik, dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas kependidikan. Guru masuk ke dalam kelas, membawa seluruh unsur kepribadiannya, agamanya, akhlaknya, sikapnya dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Penampilan guru, pakaiannya, caranya berbicara, bergaul dan memperlakukan anak, bahkan emosi dan keadaan kejiwaan yang sedang dialaminya juga terbawa tanpa sengaja ketika ia berhadapan dengan anak didiknya. Seluruhnya itu akan diserap oleh siswa tanpa disadari oleh guru dan orang tua, bahkan anak tidak tahu bahwa ia telah terseret menjadi kagum dan sayang kepada gurunya.
Dengan demikian guru merupakan orang yang sangat besar pengaruhnya di sekolah dalam hal mempengaruhi anak didik. Namun guru menghadapi berbagai macam bentuk kesulitan dalam upayanya mempengaruhi anak belajar. Untuk lebih jelasnya mengenai tugas pokok guru dalam proses belajar mengajar dapat penulis kemukakan berikut ini.
1. Perancang dan pengelola pengajaran
Dalam hal merangcang pengajaran, guru memerlukan pengetahuan yang memadai mengenai prinsip-prinsip belajar sebagai dasar dalam menyusun rancangan kegiatan belajar mengajar. Rancangan tersebut sekurang-kurangnya meliputi; memilih dan menentukan bahan pelajaran, merumuskan tujuan penyajian bahan, memilih metode penyajian bahan pelajaran yang tepat serta menyelenggarakan kegiatan evaluasi prestasi belajar.12
Selanjutnya diantara kegiatan-kegiatan pengelolaan proses belajar mengajar, yang terpenting adalah menciptakan kondisi dan situasi sebaik-baiknya, sehingga memungkinkan para siswa belajar secara berdaya guna dan berhasil guna.
2. Memotivasi Anak Didik
Guru selalu berkomunikasi dengan murid-muridnya terutama ketika ia berada di lingkungan sekolah. Oleh karena itu untuk lebih mudah berkomunikasi dengan murid tentunya guru harus mengertahui berbagai masalah yang dihadapi siswanya dan berusaha untuk menghilangkan masalah-masalah tersebut dan selanjutnya memberi motivasi kepada mereka.13
Dalam memberikan motivasi kepada murid guru tidak mudah melalukannya, sebab kondisi masing-masing siswa berlainan. Mungkin suatu motivasi baik dan berhasil bagi seorang murid, tetapi mungkin tidak baik dan tidak berhasil untuk membangkitkan semangat belajar murid lainnya. Oleh karena itu guru harus berusaha agar dapat memberi motivasi yang tepat bagi masing-masing muridnya.
Pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru di sekolah tidak terlepas dari upaya mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah dirumuskan. Untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran tentunya guru harus berupaya semaksimal mungkin agar tujuan pendidikan dapat dicapai, baik tujuan instruksional maupun tujuan institusional.
3. Mengajar, Mendidik dan Membimbing
Ada beberapa ciri yang menunjukkan perbedaan mengajar, mendidik dan membimbing. Ciri tersebut kalau tidak diperhatikan memang tidak dapat diketahui. Tapi bagi orang yang mempelajari atau mengetahui masalah bimbingan dan penyuluhan akan mengenal ciri-ciri tersebut sehingga dapat menunjukkan bahwa sesuatu tindakan itu termasuk tindakan mendidik, sedangkan tindakan yang lain lagi termasuk tindakan membimbing.
Tindakan mengajar berupa pemberian materi (bahan) pengajaran kepada anak didik, sehingga diharapkan mereka dapat menguasai dan memiliki materi yang diberikan oleh guru sebagai bahan bagi pembentukan kepribadiannya. Materi dan bahan pelajaran itu biasanya didasarkan atau terdapat di dalam kurikulum. Jadi guru mengajar harus berpedoman kepada kurikulum yang telah ditentukan.
Selanjujtnya kalau mengajar itu berupa pemberian materi pengajaran, maka mendidik tidak selalu berupa pemberian materi pengajaran. Akan tetapi mendidik dapat berupa melarang anak didik dari melakukan sesuatu perbuatan dapat pula berupa suruhan atau perintah mengerjakan sesuatu perbuatan.
Sedangkan membimbing berupa pemberian bantuan dalam mendidik dan menggunakan cara mempelajari materi pelajaran yang diberikan kepada anak didik agar dapat menguasainya. Tetapi bantan dalam masalah bimbingan tidak hanya terbatas pada pelajaran saja, melainkan lebih luas dari itu. Dalam hal ini termasuk bimbingan dalam menyelesaikan segala bentuk persoalan yang dihadapi siswa, baik secara perorangan maupun kelompok.
Para siswa dibimbing agar memiliki kemampuan kreatifitas, mampu berpikir kritis serta mampu memecahkan masalah. Karena itu, melalui proses belajar tertentu, diupayakan tercapainya tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam pengajaran. Guru perlu menyediakan kondisi-kondisi belajar yang memungkinkan terjadinya penambahan aspek keluwesan, keaslian, dan kuantitas dari kreatifitas yang dimiliki oleh para siswa. Sebab belajar merupakan kreatifitas yang berproses, sudah tentu didalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui fase-fase yang antara satu dengan lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional. Fase-fase belajar yang dimaksud adalah fase informasi (tahap penerimaan materi), fase transformasi (tahap pengubahanmateri), dan fase evaluasi (tahap penilaian materi).14
Dari penjelasan di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa
mengajar, mendidik dan membimbing tidaklah sama pengertiannya, sebab mengajar terbatas pada pemberian materi pelajaran berdasarkan kurikulum atau terikat dengan kurikulum, sedangkan mendidik tidak terikat dengan kurikulum dan dapat berlangsung kapan dan dimana saja. Sementara bimbingan merupakan pemberian bantuan guru yang berupaya membantu siswa dalam menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi siswa. Dengan demikian guru mempunyai kedudukan dalam proses belajar mengajar sebagai pengajar, pendidik dan pembimbing. Selain daripada itu guru juga sangat berperan dalam memberikan contoh teladan kepada anak didik, apalagi ia bertindak sebagai guru pendidikan agama.
Hal ini juga akan berdampak positif terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru, dimana pada saat guru tersebut berhadapan dengan anak didik, tentunya seluruh kepribadian yang dimiliki oleh sang pendidik akan dihadapkan kepada anak didik, apakah dalam bentuk kepribadian, tingkah laku, tutur kata, dan sebagainya.

Penanggung Jawab Pembelajaran Agama Islam

D. Strategi Pembelajaran Agama Islam
Setiap lembaga pendidikan mempunyai strategi dalam menyajikan ilmu pengetahuan kepada anak didik, karena strategi merupakan salah satu aspek untuk mencapai tujuan yang diharapkan, metode mengajar dipandang penting bukan saja bagi calon guru, melainkan juga bagi para guru yang berpengalaman mengajar. Para guru, baik bertugas pada institusi pendidikan jenjang pendidikan dasar maupun jenjang pendidikan menengah, dengan sendirinya pernah mengunakan strategi mengajar, seperti strategi ceramah, strategi tanya jawab dan sebagainya.
Dalam kenyataan sehari-hari sering kita jumpai sejumlah guru yang mengunakan strategi tertentu yang kurang atau tidak cocok dengan isi dan tujuan pengajaran. Dalam kenyataan sehari-hari tak jarang kita temukan sejumlah guru yang mampu memilih metode yang tepat untuk mengelarkan materi tertentu namun kurang mampu mengaplikasikan secara baik. hasilnya tentu saja tak memadai, bahkan mungkin merugikan pihak, terutama pihak siswa dan keluarganya, walaupun kebanyakan mereka tidak menyadari hal ini.
Untuk mengantisipasi kemungkinan gagalnya proses pengajaran seperti tadi, sudah sepantasnya guru mengkaji ulang secara cermat metode-metode mengajar yang relevan dengan pokok-pokok bahasan bidang studi. Pengkaji ulangan strategi/metode tersebut akan lebih bermakna apabila guru dapat segera mempraktikkan penggunaannya dalam proses belajar mengajar sehari-hari. Kegiatan pengkaji ulangan seperti itu seyogianya mendapat perhatian khusus dan para guru agar tujuan pengajaran yang khusus maupun yang umum dapat tercapai dengan baik.
Metode secara harfiah berarti “cara”. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan mengunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis (tata cara yang berurutan) yang biasa digunakan untuk menyelidiki fenomena (gejala-gejala) kejiwaan seperti metode klinik, metode exsprimen dan sebagainya.
Selanjutnya, yang dimaksud dengan metode mengajar ialah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa.18 Bagian penting yang sering dilupakan orang adalah strategi mengajar yang sesungguhnya melekat dalam metode mengajar. Namun berbeda dengan strategi mengajar (teaching strategy), metode mengajar tidak langsung berhubungan dengan hasil belajar yang dikehendaki. Artinya, dibandingkan dengan strategi, metode pada umumnya kurang berorientasi pada tujuan (less goal- oriented) karena metode dianggap mengurangi signifikasi strategi mengajar, lantaran strategi mengajar itu ada dan berlaku dalam kerangka metode mengajar.
Ada lima strategi mengajar yang dipandang representatif dan dominan dalam arti digunakan secara luas sejak dahulu hingga sekarang pada setiap jenjang pendidikan formal. Tiga dan empat metode mengajar tersebut bersifat khas dan mandiri, sedangkan yang lainnya merupakan kombinasi antara satu strategi dengan strategi lainnya.
1. Ceramah
Dalam istilah kependidikan metode dibuat dengan suatu sistem atau cara yang mengatur suatu cita-cita kependidikan.19 Ceramah adalah sebuah strategi/metode yang paling klasik, tetapi masih dipakai orang dimana-mana hingga sekarang.20 Maka dengan demikian strategi ceramah dapat diartikan “cara menyampaikan suatu pelajaran tertentu dengan jalan penuturan secara lisan kepada anak didik atau khalayak ramai”.21
Menurut W. James Popham dan Evi L. Baker, mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan metode ceramah adalah: “setiap penyampaian informasi secara lisan dapat disebutkan ceramah baik yang formal dan berlangsung 45 menit, maupun informal dan hanya berlangsung selama lima menit. Ceramah tidak dapat dikatakan baik atau buruk, karena ceramah harus dinilai menurut tujuan pengunaannya.22
Ceramah akan menjadi metode yang sangat efektif apabila pembicara guru adalah seorang komunikator yang sangat baik. Disamping itu penggunaan metode-metode lain sesuai kebutuhan dan media komunikasi.
2. Metode Tanya jawab
Metode Tanya jawab adalah suatu cara mengajar atau penyajian materi melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi.
Metode Tanya jawab akan menjadi metode yang efektif bila:
1. Materinya menarik dan menantang, serta memiliki nilai aplikasi tinggi.
2. Pertanyaannya bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan jawaban) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban).
3. Jawaban pertanyaan itu diperoleh dari kesempurnaan jawaban siswa.
4. Dilakukan dengan teknik bertanya yang baik.
3. Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara mengajar atau menyajikan materi melalui pengajuan masalah yang pemecahannya sangat terbuka.23
Diskusi dapat dilakukan secara kelompok atau klasikal. Suatu diskusi dinilai menunjang keaktifan siswa bila diskusi melibatkan semua anggota diskusi dan menghasilkan suatu pemecahan masalah. Dalam dunia pendidikan yang semakin demokratis seperti pada zaman sekarang ini, metode diskusi mendapat perhatian besar karena memiliki arti penting dalam meransang para siswa untuk berpikir dan mengekspresikan pendapatnya secara bebas dan mandiri.
4. Demontrasi.
Demontrasi dalam hubungannya dengan penyajian informasi dapat diartikan sebagai upaya peragaan atau pertunjukan tentang cara melakukan atau mengerjakan sesuatu. Metode demontrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.
Tujuan pokok pengunaan metode demontrasi dalam proses belajar mengajar ialah untuk memperjelas pengertian konsep dan memperhatikan (meneladani) cara melakukan sesuatu atau proses terjadinya suatu. Ditinjau dari sudut tujuan pengunaannya dapat dikatakan bahwa metode demontrasi bukan metode yang dapat di implementasikan dalam PBM secara indenpenden, karena ia merupakan alat bantu memperjelas apa-apa yang diuraikan, baik secara verbal maupun secara tetsual. jadi metode demontrasi lebih berfungsi sebagai strategi mengajar tertentu seperti metode ceramah.
Ada asumsi psikologi yang melatar belakangi perlunya metode demontrasi dalam PBM, yakni belajar adalah proses melakukan dan mengalami sendiri apa-apa yang dipelajari.24 Dengan melakukan dan mengalami sendiri, siswa diharapkan dapat menyerap kesan yang mendalam kedalam benaknya.
5. Pengajian Al-Qur’an
Dalam Pengajian Al-Qur’an ini yang ingin dicapai adalah keberhasilan siswa dalam membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam metode pengajian metode yang umunya dipergunakan adalah metode iqra’. Metode iqra’ adalah metode atau cara belajar Al-Qur’an dengan cepat tanpa perlu dieja terlebih dahulu akan tetapi langsung dibaca. Pada metode ini juga menggunakan sistem CBSA, guru hanya menunjukkan pola-polanya saja dan tidak menggunakan istilah ataupun menuntun membacanya. Didalam mendidik metode ini menganjurkan anak didik membaca secara langsung dan pengajarannya bersifat pribadi.7
Pengajaran dan pemahaman Al-Qur’an sangat penting bagi umat manusia khususnya siswa pada Madrasah Ibtidaiyah (MIN). Sebab Al-Qur’an berisi hukum-hukum dan aturan yang dapat menyelamatkan manusia, menyelesaikan persengketaan dan perselisihan di antara sesama dalam pergaulannya sehari-hari, cukup pula cerita dan berita, dan riwayat umat purbakala. Ada umat yang hancur binasa, menderita hukuman berat karena kekafiran, mengingkari perintah Allah, hidup bergelimang dosa dengan melakukan maksiat dan anianya. Mereka menyimpang dari jalan yang benar. Ada pula yang aman tenteram, sentosa dan bahagia, karena menempuh jalan hidup menurut ajaran Allah SWT.8
Dengan demikian jelas bahwa pengajian Al-Qur’an sangat tepat untuk pembinaan mental siswa dan membentuk akhlak yang mulia sesuai dengan akhlak Al-Qur’an. Karena dengan membaca Al-Qur’an serta memahaminya maka seseorang akan mendapatkan ketenagan jiwa dan dapat menambah wawasan dan pengetahuan khususnya berkenaan dengan keimanan, akhlakul karimah, petunjuk serta kabar gembira kepada orang-orang yang selalu mengerjakan amal saleh. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Isra’ ayat : 9 yang berbunyi :
ان هدالقران يهدي للتي هي اقوم ويبشر المؤ منين الدين يعملون الصلحت ان لهم اجرا كبيرا.(الإسراء : ٩)

Artinya : Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada paha yang besar. (Q.S. Al-Isra’ : 9).

Selain daripada itu, dengan membaca dan memahami Al-Qur’an serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari maka ia akan memberikan ketenagan jiwa. Artinya kesehatan rohani bagi yang mebaca Al-Qur’an selalu dapat terjaga, jauh dari penyakit kekufuran, hati senantiasa terhibur dalam menghadapi berbagai cobaan. Ini berarti bahwa Al-Qur’an dapat menjadi obat bagi yang membacanya apalagi berusaha memahami dan mengamalkan dalam kehidupannya.
Hal ini sesuai pula dalam firman Allah SWT yang berbunyi :
يايها الناس قد جاء تكم مو عظة من ربكم وشفاء لما فى الصدور وهدى ورحمة للمؤ منين. (يونس : ٥٧)

Artinya : Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) di dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Yunus : 57).
Dari uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pengajian Al-Qur’an selain dapat menambah wawasan dan pengetahuan siswa, juga merupakan pembentuk akhlak yang mulia sekaligus menjadi obat hati. Karena dengannya ia akan mendapat ketenangan batin dalam kehidupannya.