Latest Entries »


Lagu-lagu Islami



Makalah

Oleh: Ibnu Hajar, S.Ag

A. Pendahuluan

            Pendidikan merupakan usaha membimbing dan membina serta bertanggung jawab untuk mengembangkan intelektual pribadi anak didik ke arah kedewasaan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka pendidikan Islam adalah sebuah proses dalam membentuk manusia-manusia muslim yang mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mwujudkan dan merealisasikan tugas dan fungsinya sebagai Khalifah Allah swt., baik kepada Tuhannya, sesama manusia, dan sesama makhluk lainnya. Pendidikan yang dimksud selalu berdasarkan kepada ajaran Al Qur’an dan Al Hadits. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan metodologi pendidikan Islam adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan pencapaian tujuan pendidikan Islam.[1]

            Tugas utama metode pendidikan Islam adalah mengadakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis dan paedagogis sebagai kegiatan antar hubungan pendidikan yang terealisasi  melalui penyampaian keterangan dan pengetahuan agar siswa mengetahui, memahami, menghayati, dan meyakini materi yang diberikan, serta meningkatkan ketrampilan dalam berpikir.[2]

            Pendidikan Islam merupakan sistem pendidikan untuk melatih anak didiknya yang sedemikian rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, dan pendekatanya dalam segala jenis pengetahuan banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual dan sangat sadar akan nilai etika Islam. Dalam pendidikan Islam banyak metode yang terdapat dalam al-Qur’an yang dapat dipergunakan dalam proses pembelajaran, di antaranya adalah metode keteladanan, kisah, amtsal, targhib, tarhib, hiwar, ibrah, mauizha, dan lain-lain. Jadi untuk keberhasilan tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan harus dapat dipilih metode yang tepat khususnya dalam proses pendidikan aqidah. Namun dalam makalah ini penulis hanya membahasa metode Mauizhah dengan judul: “Aplikasi Metode Mauizhah dalam Pendidikan Aqidah”.

 B. Rumusan Masalah

            Dari  latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: Bagaimana penggunaan metode mauizhah yang sesuai dengan karakter pendidikan aqidah, karakter humanistik dan lingkungan?.

 C. Tujuan Pembahasan

            Adapun yang menjadi tujuan pembahasan makalah ini adalah: Untuk mengetahui penggunaan metode mauizhah yang sesuai dengan karakter pendidikan aqidah, karakter humanistik dan lingkungan.

D. Pengertian Dasar dan Tujuan Metode Mauizhah

1. Pengertian Metode Mauizhah

        Mauizhah diartikan dengan “mengingatkannya terhadap sesuatu yang dapat meluluhkan hatinya dan sesuatu itu dapat berupa pahala maupun siksa, sehingga ia menjadi ingat.[3]

        Dari pengertian di atas dapat dikemukakan bahwa metode Mauidzah adalah pemberitahuan seseorang tentang sesuatu yang baik agar dia dapat melakukannya dan yang jahat agar dia tidak melakukannya. Termasuk mau’idzah adalah nasihat, peringatan, teguran perintah. Dengan ungkapan lain, mau’idzah dapat disebut juga al-amr bil-ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar. Mau’idzah atau al-amr bil-ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar merupakan salah satu metode yang dianjurkan oleh Allah.

         Metode ini disebut juga metode “nasehat” yakni suatu metode pendidikan dan pengajaran dengan cara pendidik memberi motivasi. Metode Ibrah atau mau’zhah (nasehat) sangat efektif dalam pembentukan mana anak didik terhadap hakekat sesuatu,serta memotivasinya untuk bersikap luhur, berakhlak mulia dan membekalinya dengan prinsip-prinsip islam. Menurut Al-qur’an, metode nasehat hanya diberikan kepada mereka yang melanggar peraturan dalam arti ketika suatu kebenaran telah sampai kepadanya, mereka seolah-olah tidak mau tau kebenaran tersebut terlebih melaksanakannnya. Pernyataan ini menunjukkan adanya dasar psikologis yang kuat, karena orang pada umumnya kurang senang dinasehati, terlebih jika ditunjukkan kepada pribadi tertentu.

2. Dasar Penerapan Metode Mauizhah

          Dalam Surat Al-‘Alaq  ayat 1-5 ini merupakan ayat yang memerintahkan pada ilmu pengetahuan kepada manusia dengan cara memberi nasehat berupa perintah untuk membaca. Selanjutnya dalam surah Al-Ankabut ayat 64 Allah berfirman:      

$tBur Ínɋ»yd äo4qu‹ysø9$# !$u‹÷R‘$!$# žwÎ) ×qôgs9 Ò=Ïès9ur 4 žcÎ)ur u‘#¤$!$# notÅzFy$# }‘Îgs9 ãb#uqu‹ptø:$# 4 öqs9 (#qçR$Ÿ2 šcqßJn=ôètƒ.  

“dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Q.S. Al-Ankabut: 64)”.

         Ayat ini merupakan perintah memberikan nasehat kepada orang yang berakal untuk memikirkan keadaan dunia yang terus berkurang dan menyusut guna mempertebal rasa tunduk, takut dan rasa taat kepada perintah Allah. Firman Allah:

…öNà6Ï9ºsŒ àátãqム¾ÏmÎ/ `tB tb%x. ÚÆÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 `tBur È,­Gtƒ ©!$# @yèøgs† ¼ã&©! %[`tøƒxC .

“… Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. (Ath-Thalaq: 2)”.

           Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa  mauizhah/nasehat itu berguna untuk pengekangan diri dari berbagai hal diharamkan atau perbuatan yang diharamkan Allah. Dan tiada pengekangan yang baik kecuali rasa takut yang hakiki kepada Allah dan azab-Nya. Rasa takut tersebut merupakan pengembangan perasaan ketuhanan yang dapat menguatkan keimanannya kepada Allah SWT.

3. Tujuan penerapan metode Mauizhah

            Dari sudut psikologi dan pendidikan penerapan metode mauizhah dalam pendidikan aqidah antara lain bertujuan untuk:

1). Membangkitkan perrasaan ketuhanan

            Perasaan-perasaan ketuhanan yang telah dikembangkan dalam jiwa setiap anak didik melalui dialog, pengalaman, ibadah, praktik dan metode lainnya. Perasaan ketuhanan yang meliputi ketundukan kepada Allah dan rasa takut terhadap azabNya atau keinginan menggapai syurgaNya. Maka melalui metode mauizhah dapat dibangkitkan perasaan ketuhanan yang baru ditumbuhkan itu.

2). Membangkitkan keteguhan hati

            Keteguhan artinya berpegang teguh pada pemikiran ketuhanan yang sehat, yang sebelumnya telah dikembangkan dalam diri objek nasihat. Pemikiran ketuhanan itu dapat berupa imajinasi sehat tentang kehidupan dunia dan akhirat, peran dan tugas manusia dalam alam semesta ini, nikmat-nikmat Allah, serta keyakinan bahwa Allahlah yang telah menciptakan kehidupan, kematian dan sebagainya.

3). Menjauhkan anak dari perbuatan mungkar

            Mauizhah bertujuan menjauhkan anak diri dari perbuatan-perbuatan tercela. Jadi bila anak melakukan kesalahan atau berbuat jahat dapat dinasehati bahwa perbuatan-perbuatan tersebut adalah perbuatan dosa. Dengan kata lain semuanya menjalankan perintah Allah dengan ma’ruf, adil, baik, bijaksana, dan ikhsan. Makna-makna tersebut terhimpun dalam firman Allah SWT surat An-Nahl ayat 90, yaitu:

¨bÎ) ©!$# ããBù’tƒ ÉAô‰yèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ǜ!$tGƒÎ)ur “ÏŒ 4†n1öà)ø9$# 4‘sS÷Ztƒur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.x‹s?. 

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An-Nahl : 90)”.

         Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa di antara tujuan penerapan metode Mauizhah dalam pendidikan aqidah adalah: Menumbuhkan aqidah tauhid, mengantarkan pendengar pada suatu kepuasan berpikir akan salah satu akidah, menggerakan dan mendidik perasaan rabaniyah, mengarahkan, mengokohkan dan menumbuhkan aqidah tauhid, menumbuhkan ketaatan pada perintah Allah, dan menumbuhkan kesan heran dan kagum.

4). Kelebihan dan Kelemahan Metode Mauizah

           Dalam penggunaan metode mauizah pendidik harus berusaha menjadi teladan peserta didiknya, teladan dalam kebaikan. Dengan demikian keteladanan itu dimaksudkan peserta didik senantiasa akan mencontoh segala sesuatu yang baik, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Dalam pendidikan aqidah metode mauizah sangat besar pengaruhnya pada perkembangan psikologis peserta didik, jika disampaikan secara baik.

           Dalam penggunaan metode, pasti ada kelebihan dan kelemahannya adapun kelebihan dan kelemahan metode mauizah antara lain:

a. Kelebihannya:

1) Dalam waktu yang singkat guru agama dapat menyampaikan bahan yang sebanyak-banyaknya.

2) Organisasi kelas lebih sederhana tidak perlu mengadakan pengelompokan murid.

3) Guru agama dapat menguasai seluruh kelas dengan mudah, walupun jumlah murid banyak.

4) Jika guru agama sebagai penasehat berhasil dengan baik, maka dapat menimbulkan semangat bagi peserta didik untuk aktif,

5) Fleksibel, dalam arti bahwa jika waktu sedikit bahan dapat dipersingkat, diambil yang penting-penting saja, jika terdapat waktu longgar bisa disampaikan secara detail.

b. Kelemahannya

1) Terkadang guru sulit untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap bahan materi yang diberikan

2) Karena metode disampaikan secara lisan terkadang guru juga merasa lesu harus berbicara terus dalam menjelaskannya.

3) Bila guru tidak terlalu memperhatikan psikologis anak didik, maka bisa terjadi pemahaman yang kabur

4) Jika guru tidak merencanakan materi yang akan disampaikan, terkadang guru bisa melantur-lantur dan membosankan

         Peranan murid dalam metode ibrah mauizah adalah mendengarkan dengan teliti serta mencatat pokok penting yang mungkin diperlukan ataupun dibutuhkan sewaktu-waktu

E. Karakteristik Pendidikan Aqidah, Humanistik, dan Lingkungan

1. Karakteristik Pendidikan Aqidah

            Adalah  salah  satu  bagian dari  karunia Allah subhanahu wata’ala pada hati manusia bahwa Dia melapangkan hati untuk menerima iman di awal pertumbuhannya tanpa perlu kepada argumentasi dan bukti yang nyata. Dan kita sebagai orang tua perlu membuat suasana lingkungan yang mendukung dan positif, memberi teladan pada anak, banyak berdoa untuk anak, dan hendaknya kita tidak melewatkan kejadian sehari-hari melainkan kita menjadikannya sebagai sarana penanaman pendidikan baik itu pendidikan aqidah maupun pendidikan lainnya. Hal ini sesuai kiranya dengan apa yang diajarkan Luqman kepada anaknya:

“(Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman : 16 ).

            Pendidikan akidah merupakan asas kepada pembinaan Islam pada diri seseorang. Ia merupakan inti kepada amalan Islam seseorang. Seseorang yang tidak memiliki akidah menyebabkan amalannya tidak mendapat pengiktirafan oleh Allah swt. Perkara yang menjadi asas atau pokok keimanan dalam Islam juga dikenali sebagai rukun-rukun Iman iaitu sebanyak enam perkara : beriman kepada Allah swt, beriman kepada Malaikat, beriman kepada kitab-kitab, beriman kepada Rasul-Rasul, beriman kepada Hari Kiamat, beriman kepada Qada” dan Qadar.

2. Karakteristik Manusia (Humanistik)

            Akidah Islam ialah akidah yang bersumberkan ketuhanan (akidah Rabbaniyyah) yang tetap, syumul, menyeluruh dan fitrah. Tabiat akidah yang demikian ialah akidah yang kukuh dan teguh. Hanya akidah yang teguh sahaja dapat membentuk manusia yang teguh dan kukuh. Kekukuhan dan keteguhan akidah ialah kerana kekukuhan dan keteguhan ciri-ciri yang menjadi kandungan akidah itu, yang merangkumi segala hakikat iaitu hakikat ketuhanan, hakikat alma semesta dan hakikat kemanusiaan serta nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Kekukuhan akidah inilah yang akhirnya menjadi sumber kekuatan Islam. Itulah hakikat kekuatan umat Islam, kekuatan jiwa dan rohani serta peribadinya yang menjadi asas kepada kekuatan jasmaninya. 

            Di dalam sejarah kegemilangan umat Islam yang silam kita mendapati bahawa umat Islam di masa itu telah dibentuk dan dididik oleh akidah yang akhirnya melahirkan kekuatan yang sungguh kental dan luar biasa. Kita lihat sahaja kepada Bilal, bahawa akidah telah memberikan kekuatan kepadanya. Abdul Rahman bin Auf dan Osman bin Affan sanggup membelanjakan hartanya kerana mempertahankan Islam sehingga tiada apa lagi yang dimiliki melainkan Allah swt dan Rasul. Ali bin Abi Talib sanggup mempertaruhkan nyawanya kerana Rasulullah saw dan banyak lagi contoh-contoh yang ditunjukkan oleh para sahabat Rasulullah saw hasil dari pendidikan akidah yang mantap.

            Jadi Akidah Islam akan melahirkan seseorang atau masyarakat yang mempunyai kepribadian yang unggul yang akhirnya akan dijelmakan melalui tingkah-laku, percakapan dan gerak-geri hati seseorang atau sesebuah masyarakat. Akidah Islam yang telah meresap ke dalam jiwa dan lubuk hati sesseorang akan menimbulkan kesan-kesan positif di antaranya:

  1. Akidah Islam melahirkan seorang yang yakin kepada Allah swt yang maha esa. Lantaran itu menggerakkan seluruh tingkah-lakunya, percakapannya dan gerak-gerinya untuk mencari keredhaan Allh swt.
  2. Akidah Islam melahirkan Insan Soleh. Insan yang melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan segala jenayah dan kemungkaran.
  3. Akidah Islam melahirkan Insan yang mempunyai akhlak cemerlang dan terpuji.
  4. Melalui pndidikan  aqidah diharapkan dapat mengikis sifat-sifat yang buruk dan melahirkan manusia yang bertaqwa, tawadhu”, ikhlas, redha, amanah dengan segala sifat terpuji yang lain di samping menyingkirkan sifat-sifat yang buruk seperti dengki, sombong, ria”, takabur dan seumpamanya yang boleh membawa masalah sosiol dalam masyarakat.

3. Karakteristik Lingkungan

            Dalam pendidikan dikenal ada tiga lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

            Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati. Orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Pendidikan keluarga disebut pendidikan utama karena di dalam lingkungan ini segenap potensi yang dimiliki manusia terbentuk dan sebagian dikembangkan. Bahkan ada beberapa potensi yang telah berkembang dalam pendidikan keluarga. Pendidikan keluarga dapat diebdakan menjadi dua yakni :

a) Pendidikan prenatal (pendidikan sebelum lahir)

            Merupakan pendidikan yang berlangsung selama anak belum lahir atau masih dalam kandungan. Pendidikan prenatal lebih dipengaruhi kepada kebudayaan lingkungan setempat. Sebagai contoh dalam masyarakat jawa dikenal berbagai macam upacara adat selama anak masih ada dalam kandungan seperti neloni, mitoni. Selain upacara-upacara adat untuk menyelamati anak yang masih dalam kandungan dalam masyarakat jawa dikenal juga berbagai macam kesyirikan (hal-hal yang harus dihindari) selama anak masih dalam kandungan.

b) Pendidikan Postnatal (pendidikan setelah lahir)

            Merupakan pendidikan manusia dalam lingkungan keluarga di mulai dari manusia lahir hingga akhir hayatnya. Segala macam ilmu kehidupan yang diperoleh dari keluarga merupakan hasil dari proses pendidikan keluarga postnatal. Dari manusia lahir sudah diajari bagaimana caranya tengkurap, minum, makan, berjalan hingga tentang ilmu agama. Sama seperti pendidikan prenatal yang tujuan adalah menjamin manusia lahir ke dunia, pendidikan postnatal ditujukan sebagai jaminan agar manusia dapat menjadi manusia yang baik dan tidak mengalami kesulitan berarti selama proses manusia hidup.

            Bagaimana manusia bersikap tentang segala macam lingkungannya di luar lingkungan keluarga sangat tergantung pada bagaimana proses pendidikan keluarga berlangsung. Dalam dunia modern seperti sekarang, bagaimana pendidikan keluarga berlangsung tidak sepenuhnya tergantung pada orang tua namun bisa juga dipengaruhi oleh orang lain yang notabene bukan bagian dari keluarga. Ini bisa terjadi karena kesibukan orangtua maka orangtua lebih cenderung untuk menyewa orang lain untuk merawat (mengasuh) anaknya.

            Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu dikirimkan anak ke sekolah. Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, sekolah telah mencapai posisi yang sangat sentral dan belantara pendidikan keluarga. Hal ini karena pendidikan telah berimbas pola pikir ekonomi yaitu efektivitas dan efesiensi dan hal ini telah menjadi semacam ideology dalam proses pendidikan di sekolah.

            Sama  seperti  pendidikan  prenatal  yang  tujuan  adalah  menjamin manusia lahir ke dunia, pendidikan postnatal ditujukan sebagai jaminan agar manusia dapat menjadi manusia yang baik dan tidak mengalami kesulitan berarti selama proses manusia hidup.

            Selanjutnya dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan keluarga sekolah. dan masyarakat pada umumnya. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas. Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertia-pengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.

F. Penerapan Metode Mauizhah dalam Pendidikan Aqidah

           Metode pembelajaran aqidah harus diperhatikan oleh setiap pelaku pendidikan, karena lembaga pendidikan saat ini memiliki peran yang sangat penting untuk memperkuat aqidah peserta didik sekaligus membentengi dari perusakan aqidah, yaitu dengan cara menyelenggarakan pendidikan yang memuat di dalamnya pegajaran aqidah yang sesuai dengan salafuṣ ṣalih melalui metode yang tepat.

          Pembelajaran aqidah bukan hanya sekedar menyampaikan dari buku yang dipaketkan oleh pihak sekolah, lebih dari itu pembelajaran aqidah harus memiliki metode yang tepat dan efektif. Tanpa metode, suatu pesan pembelajaran tidak akan dapat berproses secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar ke arah yang dicapai. Metode yang bervariasi juga sangat diperlukan dalam pembelajaran aqidah sehingga dapat meminimalisir kebosanan.

           Untuk itu agar tujuan pendidikan dapat dicapai sebagaimana mestinya, maka metode mauizhah dapat diterapkan dengan cara:

  1. Pelajaran dan nasihat yang baik, berpaling dari hal perbuatan jelek melalui tarhib dan targhib (dorongan dan motivasi); penjelasan, keterangan, gaya bahasa, peringatan, petutur, teladan, pengarahan dan pencegahan dengan cara halus.
  2. Bi al-mauizhah al-hasanah adalah melalui pelajaran, keterangan, petutur, peringatan, pengarahan dengan gaya bahasa yang mengesankan atau menyentuh dan terpatri dalam nurani.
  3. Dengan bahasa dan makna simbol, alamat, tanda, janji, penuntun, petunjuk, dan dalil-dalil yang memuaskan melalui ucapan lembut dengan penuh kasih sayang;
  4. Dengan kelembutan hati menyentuh jiwa dan memperbaiki peningkatan amal;
  5. Melalui suatu nasihat, bimbingan dan arahan untuk kemaslahatan. Dilakukan dengan baik dan penuh tanggung jawab, akrab, komunikatif, mudah dicerna dan terkesan dihati sanubari;
  6. Suatu ungkapan dengan penuh kasih sayang yang dapat terpatri dalam kalbu, penuh kelembutan sehingga terkesan dalam jiwa, tidak melalui cara pelanggaran dan pencegahan., mengejek, melecehkan, menyudutkan atau menyalahkan, dapat meluluhkan hati yang keras, menjinakkan kalbu yang liar;
  7. Dengan tutur kata yang lemah lembut, pelan-pelan, bertahap, dan sikap kasih sayang dalam konteks dakwah, dapat membuat seseorang merasa dihargai rasa kemanusiaannya sehingga dapat merespon positif

G. Pendekatan Penerapan Metode Mauizhah dalam Pendidikan Aqidah.

         Dalam penerapan metode mauizhah setidak-tidaknya ada tiga pendekatan yang harus ditempuh oleh guru atau pemberi nasehat, yaitu pendekatan rasional pendekatan secara langsung dan pendekatan tidak langsung.

1. Rasional

         Kita harus bisa memberikan nasihat-nasihat yang rasional, tidak mengada-ada tapi sesuai dengan kondisi yang ada, serta mempertimbangkan setiap risiko yang mungkin akan muncul. Pendekatan rasional ini dapat diperkuat dengan dalil-dalil Al-Qur’an atau hadis. Jika kita menerima nasihat atau teguran, maka kita harus bisa menerimanya secara rasional. Melihat esensinya dan bukan cara penyampainnya. Terkadang, kita tidak bisa menerima nasihat atau teguran yang disampaikan dengan keras ketika kita menanggapinya dengan perasaan kita.

2. Pendekatan langsung

           Pendekatan langsung adalah suatu pendekatan terstruktur dan berpusat pada guru dan digolongkan berdasarkan arahan dan kontrol dari guru, harapan guru yang tinggi atas kemajuan siswa, Maka dalam hal  ini  guru harus dapat memberikan nasehat-nasehat yang baik dengan berbagai contoh yang relevan agar siswa benar-benar dapat merubah tingkah lakunya atau dapat meningkatkan pemahamannya pada materi yang disampaikan.

3. Pendekatan tidak langsung

            Nasehat secara tidak langsung, misalnya melalui cerita dan ungkapan metaphor, atau juga dapat disajikan dengan bahasa syair/pantun yang mengandung nasehat. Dan nasehat akan lebih baik jika dilakukan secara tidak langsung, karena dengan cara ini nilai-nilai yang ditransmisikan akan lebih mengesan bagi anak didik. Nasehat tidak langsung sebagaimana dicontohkan oleh Lukman yang terdapat  dalam Al-Qur’an  surat   Luqman  ayat  12 -19, yang berisi tentang nasihat

dan wasiat Lukmanul Hakim terhadap anaknya, yaitu :

  1. Besyukur kepada Allah swt dalam segala kondisi dan keadaan
  2. Supaya tidak musyrik kepada Allah swt, karena syirik itu dosa yang paling besar.
  3. Supaya manusia berbakti kepada kedua orang tua.
  4. Pendidikan sabar dan salat sebagai pribadi muslim yang kaffah.
  5. Segala kebaikan meskipun seberat biji sawi pasi Allah swt akan membalasnya.
  6. Perintah untuk mendirikan shalat, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran dan bersabar karena hal ini merupakan yang sangat penting dalam kehidupan.
  7. Harus bersikap baik kepada sesama manusia, tidak sombong, jangan memalingkan muka dan harus melunakan suara.

H. Kesimpulan

  1. Di antara pendekatan yang dapat ditempuh oleh guru atau pemberi nasehat, yaitu pendekatan rasional pendekatan secara langsung dan pendekatan tidak langsung.
  2. Metode mauizhah dapat diterapkan dengan cara: pelajaran dan nasihat yang baik, Bi al-mauizhah al-hasanah, bahasa dan makna simbol, alamat, tanda, janji, penuntun, petunjuk, dan dalil-dalil yang memuaskan melalui ucapan lembut penuh kasih sayang, kelembutan hati yang menyentuh jiwa dan memperbaiki peningkatan amal.
  3. Menumbuhkan ketaatan pada perintah Allah melalui pengamalan ibadah pada anak di lingkungan keluarga, pemberi nasehat kurang memiliki kepribadian yang baik

I.  Saran

  1. Metode Mauizhah salah satu metode yang digunakan dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam dapat dapat digunakannya sesuai dengan karakter siswa/anak.
  2. Aqidah merupakan materi pendidikan Islam yang paling mendasar. Untuk itu bagi orang tua atau guru dapat menumbuhkan rasa ketaatannya kepada Allah melalui pembiasaan dan pengamalan ibadah sejak dini.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Mujib,  Ilmu  Pendidikan Islam Jakarta : Fajar Inter Pratama Uffset, 2008.

Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insani, 1995.

Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam Jakarta: Ciputat Press, 2002.

Ali. Al-jumbulati, Perbandingan Pendidikan Islam. Jakarta: Rineka Cipta, 1994.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

Zakiah Daradjat, dkk. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2001.

 [1]Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 41

[2]Abdullah Mujib,  Ilmu  Pendidikan Islam (Jakarta : Fajar Inter Pratama Uffset, 2008), 167

[3]Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 53.


Aku Bukan Tak Bisa Melihat

Aku hanya senang memakai kaca mata, aku hanya mencontoh pada kakekku yang berkaca mata


KENDURI NUJOH DI KECAMATAN SEUNAGAN

Oleh: Ibnu Hajar, S.Ag

 A.   Pendahuluan

Khanduri adalah termasuk salah satu dari bahagian sedekah dan mendapat fahala dari Allah bagi yang melakukannya dan bagi orang yang kita niat sedekah atas namanya. Diantara khanduri tersebut termasuk khanduri yang dilaksanakan pada orang meninggal (musibah kematian). Hal ini sesuai dengan sebuah hadis:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. (صحيح البخارى و مسلم)

“Dan barang siapa yang beriman dengan Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia muliakan tamunya. (HR. Bukhari dan Muslim)”.

 وعن عَائِشَةَ، أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَقَتْ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ: نَعَم) . رواه البخارى و مسلم)

Dari Aisyah RA, bahwa sungguh seorang laki-laki berkata bagi Nabi SAW: Bahwa sungguh ibuku meninggal secara tiba-tiba dan aku yakin bahwa seandainya dia mampu berbicara, dia akan bersedekah, apakah sampai fahala baginya jika aku bersedekah atas namanya? Nabi menjawab: Ya (sampai fahala kepada ibumu). (HR. Bukhari dan Muslim)”.

             Dari kedua hadist tersebut di atas dapat dipahami bahwa khanduri termasuk salah satu sedekah pada orang meninggal. Artinya khanduri yang dilaksanakan oleh ahli famili yang ditinggalkan oleh simayid akan sampai kepada simayid. Demikian anggapan bagi masyarakat Aceh khususnya bagi masyarakat Kecamatan Seunagan Nagan Raya. Meskipun ada sebagian pendapat para ulama yang menyatakan “bahwa kebaikan yang dikerjakan oleh orang yang masih hidup tidak akan sampai kepada orang yang sudah meninggal, melainkan apa yang telah diusahakannya semasa hidupnya”. Pendapat ini yang termashur dikemukakan oleh Imam Syafi”i. Namun demikian dalam makalah ini tidak mempersoalkan bagaimana hukumnya, atau pertentangan para ulama tentang pelaksanaan khanduri bagi orang yang sudah meninggal. Tapi yang dikaji dalam makalah ini adalah khanduri ditinjau dari aspek epistimologi, antropologi, filosofis, dan aspek psokologis.

            Secara historis khanduri selamatan pada orang yang meninggal dapat kita pahmi bahwa Aceh merupakan kumpulan dari beberapa bangsa yaitu Arab, Cina Eropa, dan Hindia. Hal ini juga menunjukkan bahwa Aceh telah mempengaruhi kehidupan masyarakat dengan empat agama besar yaitu Islam, hindu, Kong Hucu dan agama kristen, meskipun pada akhirnya pengaruh masyarakat Aceh dimenangkan oleh agama Islam.[1] Dalam hal kenduri selamatan kematian banyak dipengaruhi oleh agama Hindu. Hal ini dapat kita lihat acara kenduri selamatan pada hari kesatu, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, keempat puluh atau ke seribu banyak ditemukan di dalam kitab Weda.

            Sementara itu dalam masyarakat Kecamatan Seunagan khanduri pada rumah duka (orang meninggal) sudah merupakan suatu kebiasaan dalam sistem kehidupan masyarakat. Namun yang menjadi pertanyaan dalam hal ini adalah apa makna khanduri nujoh bagi masyarakat Kecamatan Seunagan baik secara epistimologi, antropologi, filosofis, naupun dari segi psikologis.

B.   Rumusan Masalah

            Dari latar belakang masalah di atas dapat dikemukakan beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:

”Apa makna khanduri nujoh bagi masyarakat Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya baik dari segi epistimologi, antropologi, filosofis, maupun dari segi psikologis”.

 C.   Tujuan Penulisan

 Adapun yang menjadi tujuan pembahasan dalam makalan ini adalah: Untuk megetahui makna khanduri nujoh bagi masyarakat Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya baik secara epistimologi, antropologi, filosofis, maupun secara psikologis.

D.  Pengertian Khanduri Nujoh

Istilah khanduri mengandung makna “memberikan sesuatu dengan ikhlas tanpa berharap imbalan apapun”. Jadi khanduri nujoh dapat diartikan dengan menyediakan makanan kepada tamu baik sanak famili, tetangga atau teman dekat yang datang kerumah duka untuk melayat selama tujuh hari.

 E.   Kebiasaan Khanduri Nujoh di Kecamatan Seunagan Nagan Raya

Bila ada seseorang yang meninggal dalam suatu gampong (desa), maka salah seorang ahli warisnya memberitahukan terlebih dahulu kepada teungku. Kemudian mereka menyuruh salah seorang warga kampung untuk membunyiakn tambur sebanyak tiga kali. Dengan demikian seluruh warga kampung akan tahu bahwa di kampung itu ada seseorang yang telah meninggal. Maka seluruh warga kampung sudah menjadi kewajiban adat untuk mengunjunginya dengan membawa uang sedekah ala kadarnya, sebagai tanda berduka cita. Uang sedekah tersebut biasanya tidak langsung diberikan langsung kepada ahli waris si mati, tetapi diletakkan ke dalam beras yang telah disediakan dalam sebuah piring.

Orang yang telah meninggal itu dibaringkan di atas kasur dan diselimuti denga kain batik panjang, sebelum mayat itu dimandikan. Beberapa orang warga kampung pergi menggali lubagn kuburan, sementara mayat di rumah dimandikan oleh teungku. Upacara memandikan mayat dilakukan menurut tradisi yang terdapat dalam agama Islam. Mayat dipangku oleh anak cucunya. Kalau yang meninggal itu orang tua, atau oleh pamannya kalau yang meninggal itu masih anak-anak. Setelah selesai dimandikan kemudian mayat dikapani dengan kain putih, diberi kapas dan cendena. Semua keluarganya dibenarkan untuk melihat terakhir sebelum dibungkus dengan kafan. Setelah mayat dibungkus degnan seksama, lalu disembahyangkan secara berjamaah. Acara sembahyang ini ada yang dilakukan di dalam mesjidm. Setelah selesai acara sembahyang mayat, kemudian dibawa ke kuburan dengan digotong dalam keranda (peti mayat) bersama-sama. Setelah sampai ke tempat penguburan maka diadakan upacara penguburan. Setelah selesai upacara penguburan tadi, mulai malam pertama sampai dengan malam ketiga diadakan samadiah atau tahlil. Pada malam-malam ini hadir semua kerabat dan jiran-jiran setempat. Biasanya acara ini diakhiri dengan acara makan-makan bersama (kenduri) atau cukup minum dan kue-kue saja. Pada mlaam kelima, dan ketujuh diadakan kenduri lagi. Pada malam ini kadang-kadang diadakan acara mengaji (membaca Al Qur’an).

Kita maklumi bahwa apabila seorang Islam meninggal ada empat hal yang harus dilakukan oleh muslim lainnya yaitu: memandikan jenazah, membungkusnya dengan kain kafan, menyembahyangkan dan menguburkan.[2] Sedangkan keluarga yang ditinggalkan berkewajiban melunasi hutang-piutang si mayid. Namun dalam tradisi masyarakat ditambahkan dengan khanduri selama tujuh hari berturut-turut, bahkan juga dilaksanakan pada hari ke 10, 40 dan 100.

Dalam masyarakat Kecamatan Seunagan khanduri tersebut seolah-olah merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Bila hal tersebut tidak dilaksanakan, maka keluarga tersebut akan merasa berdosa, atau malu dengan masyarakat sekitar. Maka dalam hal ini pihak keluarga akan mengeluarkan biaya berapapun untuk khanduri tersebut. Bila simayid atau keluarga yang ditinggalkan tidak memiliki harta, maka untuk biaya khanduri ada yang mengutangnya.

            Selanjutnya selama tujuh hari sanak-famili, teman dekat baik dari jauh maupun yang ada di sekitar akan datang dengan membawa sedekah untuk diberikan kepada keluarga yang ditinngalkan. Bentuk Sedekah yang diberikan bermacam-macam, mulai dari uang, bahan makanan, hingga hewan seperti ayam, kambing, atau bahkan kerbau/lembu. Sementara tuan/ahli rumah menyediakan makanan atau dikenal dengan istilah ”Beuet Boe”. Hal ini kiranya sesuai dengan gambaran dari sebuah syair ”Jamei ’Oh Mate :

Leupah that ramphak bak ureueng mate

Jamei dum ile beungoh ngon sinja

Lam tujoh  uroe riyoh bukonle

Cit hana pre-pre jamei dum teuka

Jeuoh deungon toe kuta deungon gle

Ngon seunang hate kunjong syeedara

Jak saweue rakan-wareh ban mate

Peuet ploh thon akhe meureumpok hana

Di ulontuwan dis’ah lam hate

Bit ureueng mate leupah mulia

Tanda bukeuti jan ureueng mate

Jamei dum ile meubura-bura

Ngon bungong jaroe pisang meutangke

Ruti meusile ladom ba saka

Tan nyang soh jaroe saweue si mate

Nyang na hi Toke geuba beulanja

Sayang syeedara tan geumakeuenle

Gobnyan ka mate geutinggai donya

Tan jeuet meureumpok ngon ureueng mate

Moe beukah hate meuteumeung hana

             Selanjutnya  selama   tujuh  hari  dilaksanakan  samadiah  atau  tahlil,  juga dilaksanakan acara mengaji (membaca Al-Qur’an). Pada malam-malam tersebut hadir para kerabat dan keluarga lingka (jiran). Biasanya pada acara ini diakhiri dengan keunduri (makan bersama) atau cukup minum dan kue-kue, tergantung dari tingkat ekonomi dan kesediaan ahli waris si mati.

 F.    Tinjauan Khanduri Nujoh dari Berbagai Aspek

 Khanduri nujoh sudah merupakan suatu tradisi pada masyarakat Aceh pada umumnya dan khususnya bagi masyarakat Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya. Dari tradisi tersebut tentunya banyak mengandung nilai-nilai yang positif khususnya dalam kehidupan bermasyarakat baik secara filosofis, epistimologi, antropologi, maupun secara psikologis.

1. Aspek Filosofis

Khanduri nujoh atau kenduri selama tujuh hari di rumah duka sudah menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat khususnya di Kecamatan Seunagan secara turun temurun. Selama tujuh hari tersebut diiringi dengan samadiah atau tahlil, dan juga membaca Al-Qur’an dan mendo’akannya. Jadi kenduri tersebut di samping mengandung nilai ibadah juga mengandung nilai-nilai sosial.

Secara filosofis orang yang melayat ke rumah duka akan menjadi amal kebaikan atau memperoleh pahala disisi Allah. Bagi orang yang masih hidup dapat memahami bahwa dirinya akan memperoleh nasib yang sama, untuk itu diharapkan agar mereka dapat memperbanyak amal shaleh, agar siap dalam menghadapi kematian.

Selanjutnya tahlilan pada rumah duka pada hari 1-7 adalah sebuah ritual Islami yang mengandung nilai-nilai filosofis keagamaan. Nilai-nilai filosofis keagamaan, bagi orang Islam yang mengikuti tahlilan, mengucapkannya di mulut dan memaknainya secara mendalam di hati kemudian menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat.  

2. Aspek Psikologis

 Sebagaimana kita maklumi bahwa setiap orang yang mengalami musibah pasti mengalami kesedihan yang mendalam, terutama bila salah satu keluarganya meninggal dunia. Kesedihan yang mendalam terhadap kepergian orang yang dicintainya akan dirasakan selama tujuh hari tersebut. Dengan kedatangan seluruh sanak saudara dari jauh akan dapat menghibur keluarga duka dan sedikit-demi sedikit akan mengurangi kesedihannya.

3.Aspek Antropologi

Sebagaimana telah dikemukakan pada bab sebelumnya bahwa Khaduri Nujoh adalah menyediakan/menyuguhkan makanan kepada tamu baik sanak famili, tetangga atau teman dekat yang datang kerumah duka untuk melayat selama tujuh hari. Kerabat atau tamu yang datang kerumah duka membawa sedikit uang atau bahan makanan untuk dimasak di rumah duka. Hal ini secara antropologi membantu/mengurangi beban keluarga duka yang sedang mengalami musibah. Sebab pada saat itu keluarga duka sedang mengalami kesulitan terutama dari segi ekonomi.

4. Aspek Epistimologi

Pada tradisi khanduri nujoh banyak hal yang dapat dikaji secara keilmuan, seperti aqidah, akhlak, sosial dan ekonomi.

a. Aqidah

            Kematian  merupakan  suatu perkara yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia, melainkan sudah ketentuan dari Allah SWT. Oleh karenanya kematian salah satu musibah yang dirasakan oleh keluarga dengan penuh kesabaran bahwa musibah tersebut datangnya dari Allah SWT.

b. Akhlak

            Ta’ziah adalah salah satu perkara yang dianjurkan kepada setiap muslim guna menghibur keluarga duka yang sedang mengalami musibah dengan meninggalnya salah satu dari keluarganya yang mereka cintai. Hal termasuk salah satu akhklak yang mulia bagi yang melaksanakannya.

c. Sosial

            Manusia sebagai makhluk sosial sudah sepantansnya saling membantu dalam meringankan beban bagi keluarga yang sedang mengalami musibah/atau berduka. Dengan adanya perasaan sosial tersebut terwujudlah rasa kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat dengan tidak membedakan orang kaya dengan orang miskin.

d. Ekonomi

            Dari sisi ekonomi keluarga duka juga akan dapat terbantu dengan membawa sedikit sedekah berupa uang, beras, lauk pauk dan lain sebagainya. Namun disi lain orang kaya dan orang miskin juga terdapat perbedaan dari sisi tradisi khanduri nujoh, salah satu contoh bila orang yang meninggal adalah orang kaya, maka tentunya pada hari khanduri tersebut akan dipotong kerbau atau lembu, dan bila orang yang meninggal tersebut tergolong pada ekonominya lemah maka khandurinya akan dilaksanakan sesuai dengan kemampuanya.

G.  Kesimpulan

  1.  Tradisi khanduri nujoh merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak turun temurun dalam masyarakat khususnya masyarakat Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya.
  2. Dalan tradisi khanduri nujoh banyak nilai-nilai yang positif  bila kita lihat dari segi epistimologi, antropologi, filosofis, naupun dari segi psikologis.

H. Saran

  1. Tradisi khanduri nujoh merupakan salah satu tradisi yang sudah membudaya secara turun temurun dan diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai salah satu ajaran Islam. Oleh karena itu hendaknya tradisi tersebut dapat dijaga dan dipertahankan dari nilai-nilai yang mengandung kemusyrikan.
  2. Tradisi khanduri nujoh yang dilaksanakan hendaknya tidak berlebihan, dan menjauhkan dari kepercayaan-kepercayaan yang dapat merusak iman.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badruddin Husbky, Bid’ah-bid’ah di Indonesia, Jakarta: Gema Insani Press, 2002.

Kamaruzzaman Bustamam, Acehnologi, Banda Aceh: Bandar Publising, 2012.

Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo, Adat Istiadat Masyarakat Aceh Besar, Badan Perpustakaan Provinsi Naggroe Aceh Darussalam, 2006.

Muhaimin AG, Islam dalam Bingkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon Jakarta: Logos, 2001.

Koenjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djamabatan, 2002.


[1]Kamaruzzaman Bustamam, Acehnologi, (Banda Aceh: Bandar Publising, 2012), h. 111.

[2]Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo, Adat Istiadat Masyarakat Aceh Besar, (Badan Perpustakaan Provinsi Naggroe Aceh Darussalam, 2006), h. 108.


1. Pendahuluan
Dalam kehidupan manusia, tingkah laku atau kepribadian merupakan hal yang sangat ‎penting sekali, sebab aspek ini akan menentukan sikap identitas diri seseorang. Baik dan ‎buruknya seseorang itu akan terlihat dari tingkah laku atau kepribadian yang dimilikinya. ‎Oleh karena itu, perkembangan dari tingkah laku atau kepribadian ini sangat tergantung ‎kepada baik atau tidaknya proses pendidikan yang ditempuh.‎
Proses pembentukan tingkah laku atau kepribadian ini hendaklah dimulai dari masa ‎kanak-kanak, yang dimulai dari selesainya masa menyusui hingga anak berumur enam ‎atau tujuh tahun. Masa ini termasuk masa yang sangat sensitif bagi perkembangan ‎kemampuan berbahasa, cara berpikir, dan sosialisasi anak. Di dalamnya terjadilah proses ‎pembentukan jiwa anak yang menjadi dasar keselamatan mental dan moralnya. Pada saat ‎ini, orang tua harus memberikan perhatian ekstra terhadap masalah pendidikan anak dan ‎mempersiapkannya untuk menjadi insan yang handal dan aktif di masyarakatnya kelak. ‎Konsep pendidikan yang tepat untuk diterapkan pada masa ini.
Di dalam lingkungan keluarga, orang tua berkewajiban untuk menjaga, mendidik, ‎memelihara, serta membimbing dan mengarahkan dengan sungguh-sungguh dari tingkah ‎laku atau kepribadian anak sesuai dengan syari’at Islam yang berdasarkan atas tuntunan ‎atau aturan yang telah ditentukan di dalam Al-Qur’an dan hadits. Tugas ini merupakan ‎tanggung jawab masing-masing orang tua yang harus dilaksanakan.‎
Pentingnya pendidikan Islam bagi tiap-tiap orang tua terhadap anak-anaknya didasarkan ‎pada sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam ‎keadaan fitrah. Kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi ‎‎(HR. Bukhari). Hal tersebut juga didukung oleh teori psikologi perkembangan yang ‎berpendapat bahwa masing-masing anak dilahirkan dalam keadaan seperti kertas putih. ‎Teori ini dikenal dengan teori “tabula rasa”, yang mana teori ini berpendapat bahwa ‎setiap anak dilahirkan dalam keadaan bersih; ia akan menerima pengaruh dari luar lewat ‎indera yang dimilikinya. Pengaruh yang dimaksudkan tersebut berhubungan dengan ‎proses perkembangan intelektual, perhatian, konsentrasi, kewaspadaan, pertumbuhan ‎aspek kognitif, dan juga perkembangan sosial. Akan tetapi, perkembangan aspek-aspek ‎tersebut sangat dipangaruhi oleh lingkungan sang anak tersebut.‎
Jadi, karena pengaruh lingkungan atau faktor luar sangat berpengaruh terhadap ‎perkembangan aspek-aspek psikologis sang anak, maka peran pendidikan sangatlah ‎penting dalam proses pembentukan dari tingkah laku atau kepribadiannya tersebut. ‎Dalam hal ini, pendidikan keluarga merupakan salah satu aspek penting, karena awal ‎pembentukan dan perkembangan dari tingkah laku atau kepribadian atau jiwa seorang ‎anak adalah di melalui proses pendidikan di lingkungan keluarga. Dilingkungan inilah ‎pertama kalinya terbentuknya pola dari tingkah laku atau kepribadian seorang anak ‎tersebut. Pentingnya peran keluarga dalam proses pendidikan anak dicantumkan di dalam ‎Al-Qur’an, yang mana Allah SWT berfirman dalam surah Al-Furqan ayat 74, yang ‎artinya sebagai berikut:‎
‎“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-‎isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami ‎imam bagi orang-orang yang bertakwa (Al-Furqan: 74).” ‎
Selanjutnya, berhubungan dengan pentingnya peranan orang tua dalam pendidikan anak ‎di dalam lingkungan keluarga ini juga dijelaskan Allah SWT sesuai dengan firman-Nya ‎didalam surah At-Tahrim ayat 6, yang artinya sebagai berikut sebagai berikut:‎
‎”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang ‎bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, ‎keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka ‎dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (At-Tahrim: 6).”‎
Jadi, di dalam proses pendidikan di dalam lingkungan keluarga, masing-masing orang tua ‎memiki peran yang sangat besar dan penting. Dalam hal ini, ada banyak aspek ‎pendidikan sangat perlu diterapkan oleh masing-masing orang tua dalam hal membentuk ‎tingkah laku atau kepribadian anaknya yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan ‎Hadits Rasulullah SAW. Diantara aspek-aspek tersebut adalah pendidikan yang ‎berhubungan dengan penanaman atau pembentukan dasar keimanan (akidah), ‎pelaksanaan ibadah, akhlak, dan sebagainya.‎
2. Konsep Pendidikan Islam ‎
Menurut konsep dalam Islam, proses tarbiyah (pendidikan) mempunyai tujuan untuk ‎melahirkan suatu generasi baru dengan segala ciri-cirinya yang unggul dan beradab. ‎Penciptaan generasi ini dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketulusan yang ‎sepenuhnya dan seutuhnya kepada Allah SWT melalui proses tarbiyah. Melalui proses ‎tarbiyah inilah, Allah SWT telah menampilkan peribadi muslim yang merupakan uswah ‎dan qudwah melalui Muhammad SAW. Peribadinya merupakan manifestasi dan jelmaan ‎dari segala nilai dan norma ajaran Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW.‎
Islam menghendaki program pendidikan yang menyeluruh, baik menyangkut aspek ‎duniawi maupun ukhrowi. Dengan kata lain, pendidikan menyangkut aspek-aspek rohani, ‎intelektual dan jasmani. Maka hal ini, proses pendidikan sangat didukung banyak aspek, ‎terutama guru atau pendidik, orang tua, dan juga lingkungan.‎
Lingkup materi pendidikan Islam secara lengkap dikemukakan oleh Heri Jauhari Muchtar ‎dalam bukunya “Fikih Pendidikan”, sebagaimana dikutip dalam Sismanto (2008), ‎yangmenyatakan bahwa pendidikan Islam itu mencakup aspek-aspek sebagai berikut:‎
Pendidikan keimanan (Tarbiyatul Imaniyah), Pendidikan moral/akhlak ((Tarbiyatul, ‎Khuluqiyah), Pendidikan jasmani (Tarbiyatul Jasmaniyah), Pendidikan rasio (Tarbiyatul ‎Aqliyah), Pendidikan kejiwaan/hati nurani (Tarbiyatulnafsiyah), Pendidikan ‎sosial/kemasyarakatan (Tarbiyatul Ijtimaiyah), Pendidikan seksual (Tarbiyatul ‎Syahwaniyah)‎
Secara umum, keseluruhan ruang lingkup materi pendidikan Islam yang tercantum di ‎atas, dapat dibagi manjadi 3 materi pokok pembahasan. Ketiga pokok bahasan tersebut ‎yakni; Tarbiyah Aqliyah (IQ learning), Tarbiyyah Jismiyah (Physical learning), dan ‎Tarbiyatul Khuluqiyyah (SQ learning).‎
Pertama, adalah Tarbiyah Aqliyah (IQ learning). Tarbiyah aqliyah atau sering dikenal ‎dengan istilah pendidikan rasional (intellegence question learning) merupakan pendidikan ‎yang mengedapan kecerdasan akal. Tujuan yang diinginkan dalam pendidikan itu adalah ‎bagaimana mendorong anak agar bisa berfikir secara logis terhadap apa yang dlihat dan ‎diindra oleh mereka. Input, proses, dan output pendidikan anak diorientasikan pada rasio ‎‎(intellegence oriented), yakni bagaimana anak dapat membuat analisis, penalaran, dan ‎bahkan sintesis untuk menjustifikasi suatu masalah. Misalnya melatih indra untuk ‎membedakan hal yang di amati, mengamati terhadap hakikat apa yang di amati, ‎mendorong anak bercita-cita dalam menemukan suatu yang berguna, dan melatih anak ‎untuk memberikan bukti terhadap apa yang mereka simpulkan.‎
Kedua, Tarbiyyah Jismiyah (Physical learning). Yaitu segala kegiatan yang bersifat fisik ‎dalam ranhgka mengembangkan aspek-aspek biologis anak tingkat daya tubuh sehingga ‎mampu untuk melaksanakan tugas yang di berikan padanya baik secara individu ataupun ‎sosial nantinya, dengan keyakinan bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang ‎sehat “al-aqlussalim fi jismissaslim“ sehingga banyak di berikan beberapa permainan ‎oleh mereka dalam jenis pendidikan ini.‎
Dan ketiga, Tarbiyatul Khuluqiyyah (SQ learning) Makna tarbiyah khuluqiyyah disini di ‎artikan sebagai konsistensi seseorang bagaimana memegang nilai kebaikan dalam situasi ‎dan kondisi apapun dia berada seperti; kejujuran, keikhlasan, mengalah, senang bekerja ‎dan berkarya, kebersihan, keberanian dalam membela yang benar, bersandar pada diri ‎sendiri (tidak bersandar pada orang lain), dan begitu juga bagaimana tata cara hidup ‎berbangsa dan bernegara.‎
Oleh sebab itu maka pendidikan akhlak tidak dapat di jalankan dengan hanya ‎menghapalkan saja tentang hal baik dan buruk, tapi bagaimana menjalankannya sesuai ‎dengan nilai nilainya. Ada beberapa bagian dalam hal ini antara lain Mengumpulkan ‎mereka dalam satu kelompok yang berbeda karakter; Membantu mereka untuk ‎menemukan jati dirinya dengan memberikan pelatihan, ujian, dan tempaaan; Membentuk ‎kepribadian/ mendoktrin dengan selalu menjahui hal yang jelek dan berpegang teguh ‎terhadap nilai kebaikan.‎
3. Pendidikan Keluarga dalam Pandangan Islam ‎
Pendidikan keluarga adalah pendidikan yang diproses oleh seseorang di dalam ‎lingkungan rumah tangga atau keluarga. Sistem pendidikan ini merupakan unsur utama ‎dalam pendidikan seumur hidup, terutama karena sifatnya yang tidak memerlukan ‎formalitas waktu, cara, usia, fasilitas, dan sebagainya. Pada dasarnya, masing-masing ‎orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab atas pendidikan bagi anak-‎anaknya. Mereka tidak hanya berkewajiban mendidik atau menyekolahkan anaknya ke ‎sebuah lembaga pendidikan. Akan tetapi mereka juga diamanati Allah SWT untuk ‎menjadikan anak-anaknya bertaqwa serta taat beribadah sesuai dengan ketentuan yang ‎telah diatur dalam Al-Qur’an dan Hadits.‎
Jadi, orang tua tidak seharusnya hanya menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anak ‎mereka kepada pihak lembaga pendidikan atau sekolah, akan tetapi mereka harus lebih ‎memperhatikan pendidikan anak-anak mereka di lingkungan keluarga mereka, karena ‎keluarga merupakan faktor yang utama di dalam proses pembetukan kepribadian sang ‎anak. Hal ini sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah yang mana beliau ‎telah berhasil mendidik keluarga, anak-anak, serta para sahabatnya menjadi orang-orang ‎yang sukses dunia-akhirat, walaupun beliau tidak pernah mengikuti jenjang pendidikan ‎formal seperti lembaga-lembaga sekolah.‎
Peran Pendidikan Islam Dalam Pembentukan Kepribadian Anak dalam Lingkungan ‎Keluarga
Pendidikan orang terhadap anak dalam lingkungan keluarga sangat penting, apalagi pada ‎periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama). Aisyah Abdurrahman ‎Al Jalal, Al Muatstsirat as Salbiyah, sebagaimana dikutip dalam Al-Hasan, Yusuf M. ‎‎(2007), yang menyatakan bahwa periode ini merupakan periode yang amat kritis dan ‎paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam ‎pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periode ini, nanti ‎akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengannyata pada kepribadiannya ketika menjadi ‎dewasa.‎
Salah satu dasar pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak adalah sabda ‎Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. ‎Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi (HR. Bukhari). ‎Berdasarkan Hadits ini, jelas sekali bahwa anak dilahirkan dalam keadaan suci seperti ‎kertas putih yang belum terkena noda. Anak adalah karunia Allah yang tidak dapat dinilai ‎dengan apa pun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Ia akan berkembang ‎sesuai dengan pendidikan yang diperoleh dari kedua orang tuanya dan juga lingkungan ‎disekitarnya.‎
Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, kadang-kadang muncul persoalan ‎baru. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh ‎berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan ‎lingkungan masyarakat di sekelilingnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. ‎Perilakunya kadang-kadang menjadi semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah ‎menjadi kejahatan, dan orang tua pun selalu cemas memikirkanya. Maka dalam hal ini, ‎peranan orang tua sangat berpengaruh penting. Jadi, Pentingnya peranan orang tua dalam ‎pendidikan anak ini disebabkan oleh karena pendidikan yang diperoleh anak dari ‎pengalaman sehari-hari dengan sadar pada umumnya tidak teratur dan tidak sistematis.‎
4. Upaya-upaya Orang Tua dalam Mendidik Anak ‎
Memang usaha orang tua dalam upaya mendidik anak tidaklah semudah membalik ‎tangan. Perlu kesabaran dan kreativitas yang tinggi dari pihak orang tua. Secara umum, ‎dalam hal ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua muslim dalam ‎mendidik anak:‎
Orang tua perlu memahami tentang apa yang dimaksud dengan pendidikan anak dan ‎tujuannya.‎
Banyak menggali informasi tentang pendidikan anak.‎
Memahami kiat mendidik anak secara praktis. Dengan demikian setiap gejala dalam ‎tahap-tahap pertumbuhan pertumbuhan anak dapat ditanggapi dengan cepat. Sebelum ‎mentransfer nilai, kedua orang tua harus melaksanakan lebih dulu dalam kehidupan ‎sehari-hari. Karena di usia kecil, anak-anak cerdas cenderung meniru dan merekam ‎segala perbuatan orang terdekat. Bersegera mengajarkan dan memotivasi anak untuk ‎menghafal Al- Quran. Kegunaannya di samping sejak dini mengenalkan Yang Maha ‎Kuasa pada anak, juga untuk mendasari jiwa dan akalnya sebelum mengenal pengetahuan ‎yang lain. Menjaga lingkungan si anak, harus menciptakan lingkungan yang sesuai ‎dengan ajaran yang diberikan pada anak.‎
Akan tetapi, dalam mendidik anak orang tua hendaknya berperan sesuai dengan ‎fungsinya. Masing-masing saling mendukung dan membantu. Bila salah satu fungsi ‎rusak, anak akan kehilangan identitas. Pembagian tugas dalam Islam sudah jelas, peran ‎ayah tidak diabaikan, tapi peran ibu menjadi hal sangat penting dan menentukan.‎
5. Kiat-kiat Praktis Mendidik Anak
Pendidikan anak akan berhasil bila diwujudkan dengan mengikuti langkah-langkah ‎kongkrit dalam hal penanaman nilai-nilai Islam pada diri anak. Sehubungan dengan hal ‎ini, Abdurrah-man An-Nahlawi mengemukakan tujuh kiat dalam mendidik anak, yaitu:‎
5.1.Dengan Hiwar (dialog)‎
Mendidik anak dengan hiwar (dialog) merupakan suatu keharusan bagi orang tua. Oleh ‎karena itu kemampuan berdialog mutlak harus ada pada setiap orang tua. Dengan hiwar, ‎akan terjadi komunikasi yang dinamis antara orang tua dengan anak, lebih mudah ‎dipahami dan berkesan. Selain itu, orang tua sendiri akan tahu sejauh mana ‎perkembangan pemikiran dan sikap anaknya.‎
Dalam mendidik umatnya, Rasulullah SAW sering menggunakan metode ini. Anak-anak ‎sering menanyakan: apa betul Allah itu ahad, katanya Tuhan itu ada di mana-mana. Pada ‎usia remaja atau dewasa, dialog dengan orang tua itu sangat diperlukan dalam ‎menghadapi persoalan hidup yang semakin kompleks seiring dengan lingkungan anak ‎yang semakin luas.‎
5.2.Dengan Kisah
Kisah memiliki fungsi yang sangat penting bagi perkembangan jiwa anak. Suatu kisah ‎bisa menyentuh jiwa dan akan memotivasi anak untuk merubah sikapnya. Kalau kisah ‎yang diceriterakan itu baik, maka kelak ia berusaha menjadi anak baik, dan sebaliknya ‎bila kisah yang diceriterakan itu tidak baik, sikap dan perilakunya akan berubah seperti ‎tokoh dalam kisah itu.‎
Banyak sekali kisah-kisah sejarah, baik kisah para nabi, sahabat atau orang-orang shalih, ‎yang bisa dijadikan pelajaran dalam membentuk kepribadian anak. Contohnya, banyak ‎anak-anak jadi malas, tidak mau berusaha dan mau terima beres. Karena kisah yang ‎menarik baginya adalah kisah khayalan yang menampilkan pribadi malas tetapi selalu ‎ditolong dan diberi kemudahan.‎
5.3. Dengan Perumpamaan ‎
Al-Qur`an dan al-hadits banyak sekali mengemukakan perumpamaan. Jika Allah SWT ‎dan Rasul-Nya mengungkapkan perumpamaan, secara tersirat berarti orang tua juga ‎harus mendidik anak-anaknya dengan perumpamaan. Sebagai contoh, orang tua berkata ‎pada anaknya, “Bagaimana pendapatmu bila ada seorang anak yang rajin shalat, giat ‎belajar dan hormat pada kedua orang tuanya, apakah anak itu akan disukai oleh ayah dan ‎ibunya?” Tentu si anak berkata, “Tentu, anak itu akan disukai oleh ibunya.” ‎
Dari ungkapan seperti itu, orang tua bisa melanjutkan arahan terhadap anak-anaknya ‎sampai sang anak betul-betul bisa menyadari, bahwa kalau mau disukai orang tuanya ‎yang harus dilakukan sang anak adalah rajin shalat, giat belajar dan hormat pada ‎keduanya. Begitu seterusnya dengan persoalan-persoalan lain. ‎
5.4.Dengan Keteladanan ‎
Orang tua merupakan pribadi yang sering ditiru anak-anaknya. Kalau perilaku orang tua ‎baik, maka anaknya meniru hal-hal yang baik dan bila perilaku orang tuanya buruk, maka ‎bisanya anaknya meniru hal-hal buruk pula. Dengan demikian, keteladanan yang baik ‎merupakan salah satu kiat yang harus diterapkan dalam mendidik anak.‎
Kalau orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi anak shaleh, maka yang harus ‎shalih duluan adalah orang tuanya. Sebab, dari keshalehan mereka, anak-anak akan ‎meniru, dan meniru itu sendiri merupakan gharizah (naluri) dari setiap orang. ‎
5.5.Dengan Latihan dan Pengamalan
Anak shalih bukan hanya anak yang berdoa untuk orang tuanya. Anak shalih adalah anak ‎yang berusaha secara maksimal melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. ‎Untuk melaksanakan ajaran Islam, seorang anak harus dilatih sejak dini dalam praktik ‎pelaksanaan ajaran Islam seperti shalat, puasa, berjilbab bagi yang puteri, dan ‎sebagainya.‎
Tanpa latihan yang dibiasakan, seorang anak akan sulit mengamalkan ajaran Islam, ‎meskipun ia telah memahaminya. Oleh karena itu seorang ibu harus menanamkan ‎kebiasaan yang baik pada anak-anaknya dan melakukan kontrol agar sang anak disiplin ‎dalam melaksanakan Islam.‎
5.6.Dengan ‘Ibrah dan Mauizhah
Dari kisah-kisah sejarah, para orang tua bisa mengambil pelajaran untuk anak-anaknya. ‎Begitu pula dengan peristiwa aktual, bahkan dari kehidupan makhluk lain banyak sekali ‎pelajaran yang bisa diambil.Bila orang tua sudah berhasil mengambil pelajaran dari suatu ‎kejadian untuk anak-anaknya, selanjutnya pada mereka di-berikan mau’izhah (nasihat) ‎yang baik.‎
Misalnya dengan iman yang kuat, umat Islam yang sedikit, mampu mengalahkan orang ‎kafir yang banyak di perang Badar. Sesuatu yang berat dan besar bisa dipindahkan, bila ‎kita bekerjasama seperti semut-semut bergotong-royong membawa sesuatu, dan begitulah ‎seterusnya.‎
Memberi nasihat itu tidak selalu harus dengan kata-kata. Melalui kejadian-kejadian ‎tertentu yang menggugah hati, juga bisa menjadi nasihat, seperti menjenguk orang sakit, ‎ta’ziyah pada orang yang mati, ziarah ke kubur, dan sebagainya.‎
5.7.Dengan Targhib dan Tarhib ‎
Targhib adalah janji-janji menyenangkan bila seseorang melakukan kebaikan, sedang ‎tarhib adalah ancaman mengerikan bagi orang yang melakukan keburukan. Banyak sekali ‎ayat dan hadits yang mengungkapkan janji dan ancaman. Itu artinya orang tua juga mesti ‎menerapkannya dalam pendidikan anak-anaknya.‎
Dalam Islam, targhib dan tarhib dikaitkan dengan persoalan akhirat, yaitu surga dan ‎neraka. Sehingga, sikap yang lahir dari sang anak melalui metode ini lebih kokoh karena ‎terkait dengan iman kepada Allah dan Hari Akhir. Metode ini dimaksudkan untuk ‎menggugah dan mendidik manusia agar memiliki perasaan robbaniyah, seperti khauf ‎‎(takut) pada Allah, khusyu’ (merendahkan diri) di hadapan Allah, mahabbah (cinta) ‎kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.‎
Berdasarkan uraian di atas, jelas sekali bahwa proses pendidikan anak agar menjadi anak ‎yang shalih, memerlukan perhatian serius dari masing-masing orang tua, terutama para ‎ibu. Oleh karena itu, kedua orang tua harus bersepakat dalam merumuskan detail ‎pengaplikasian konsep dan program pendidikan yang ingin mereka terapkan sesuai ‎dengan garis-garis besar konsep keluarga Islami. Kesepakatan antara kedua orang tua ‎dalam perumusan ini akan menciptakan keselarasan dalam pola hubungan antara mereka ‎berdua dan antara mereka dengan anak-anak.‎
Keselarasan ini menjadi amat penting karena akan menghindarkan ketidakjelasan arah ‎yang mesti diikuti oleh anak dalam proses pendidikannya. Jika ketidakjelasan arah itu ‎terjadi, anak akan berusaha untuk memuaskan hati ayah dengan sesuatu yang kadang ‎bertentangan dengan kehendak ibu atau sebaliknya. Anak akan memiliki dua tindakan ‎yang berbeda dalam satu waktu. Hal itu dapat membuahkan ketidakstabilan mental, ‎perasaan, dan tingkah laku sang anak.‎
Dalam mendidik anak, penghargaan dan hukuman kadang-kadang juga sangat diperlukan ‎dalam mendidik anak. Penghargaan boleh saja diberikan pada anak jika mencapai suatu ‎hasil atau prestasi yang baik. Fungsinya untuk mendidik dan memotivasi anak untuk ‎dapat mengulangi kembali tingkah laku yang baik itu. Penghargaan yang diberikan ‎kepada anak dapat berupa pujian, bingkisan, pengakuan atau perlakuan istimewa.‎
Sebaliknya, hukuman merupakan sangsi fisik atau psikis yang hanya boleh diberikan ‎ketika anak melakukan kesalahan dengan sengaja. Rasulullah memerintahkan kepada ‎orang tua memukul anaknya ketika telah berumur 10 tahun masih juga lalai shalat. Tentu ‎saja dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Hukuman yang diberikan haruslah ‎proporsional (sesuai) dengan kesalahan anak. Berat ringannya hukuman disesuaikan ‎dengan besar kecilnya kesalahan, dan disesuaikan pula dengan kemampuan anak ‎melaksanakan hukuman tersebut. Menghukum anak yang memecahkan gelas misalnya, ‎harus berbeda dengan anak yang melailaikan shalat. Artinya, pelanggaran syar’i harus ‎mendapat porsi hukuman khusus (lebih berat misalnya) dibandingkan kesalahan teknis ‎yang tidak terlalu penting. Hikmah dari pendidikan melalui hukuman ini diantaranya ‎adalah untuk melatih disiplin dan mengenalkan anak pada konsep balasan setiap amal ‎perbuatan. Jika anak terlatih sejak kecil untuk berhati-hati dengan larangan dan sungguh-‎sungguh melaksanakan kewajiban, maka akan memudahkan baginya untuk berbuat ‎seperti itu ketika ia dewasa. Tampaklah bahwa hukuman pun bermanfaat untuk melatih ‎dan menanamkan rasa tanggungjawab dalam diri anak.‎
6. Kendala atau Tantangan dalam Mendidik Anak ‎
Dalam mendidik anak setidaknya ada dua macam kendala atau tantangan: yakni ‎tantangan yang bersifat internal dan yang bersifat eksternal. Sumber tantangan internal ‎yang utama adalah orangtua itu sendiri, misalnya ketidakcakapan orangtua dalam ‎mendidik anak atau ketidak harmonisan rumah tangga. Sunatullah telah menggariskan, ‎bahwa pengembangan kepribadian anak haruslah berimbang antara fikriyah (pikiran), ‎ruhiyah (ruh), dan jasadiyahnya (jasad). Tantangan eksternal mungkin bersumber dari ‎lingkungan rumah tangga, misalnya interaksi dengan teman bermain dan kawan ‎sebayanya. Di samping itu peranan media massa sangat pula berpengaruh dalam ‎perkembangan tingkah laku atau kepribadian anak. Informasi yang disebarluaskan media ‎massa baik cetak maupun elektronik memiliki daya tarik yang sangat kuat.‎
Kedua tantangan ini sangat mempengaruhi perkembangan tingkah laku atau kepribadian ‎anak. Lingkungan yang tidak islami dapat melunturkan nilai-nilai islami yang telah ‎ditanamkan di rumah. Jadi, jika orang tua tidak mengarahkan dan mengawasi dengan ‎baik, maka si anak akan menyerap semua informasi yang ia dapat, tidak hanya yang baik ‎bahkan yang merusak akhlak.‎
Meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, orang ‎tua tetap memegang peranan yang amat dominan. Dalam mendidik anak orang tua ‎hendaknya berperan sesuai dengan fungsinya. Masing-masing saling mendukung dan ‎membantu. Bila salah satu fungsi rusak, anak akan kehilangan identitas. Pembagian tugas ‎dalam Islam sudah jelas, peran ayah tidak diabaikan, tapi peran ibu menjadi hal sangat ‎penting dan menentukan.‎
Oleh karena itu, hanya ada satu cara agar anak menjadi permata hati dambaan setiap ‎orang tua, yaitu melalui pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai Islam. Islam telah ‎memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak anak ‎masih berada dalam kand
ungan. Jika anak sejak dini telah mendapatkan pendidikan Islam, Insya allah ia akan ‎tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta berbakti kepada orang ‎tuanya.‎
Akan tetapi, upaya dalam mendidik atau membentuk tingkah laku atau kepribadian ‎kepribadian anak dalam naungan Islam memang sering mengalami beberapa kendala. ‎Perlu disadari disini, betapa pun beratnya kendala ini, namun hendaknya orang tua ‎menghadapinya dengan sabar dan menjadikan kendala-kendala tersebut sebagai ‎tantangan dan ujian.‎


Keluarga dapat ditinjau dari dimensi hubungan darah dan hubungan sosial. Keluarga ‎dalam dimensi hubungan darah merupakan suatu kesatuan sosial yang diikat oleh ‎hubungan darah antara satu dengan lainnya. Berdasarkan dimensi hubungan darah ini, ‎keluarga dapat dibedakan menjadi keluarga besar dan keluarga inti. Sedangkan dalam ‎dimensi hubungan sosial, keluarga merupakan suatu kesatuan sosial yang diikat oleh ‎adanya saling berhubungan antara interaksi dan saling mempengaruhi antara satu dengan ‎yang lainnya, walaupun di antara mereka tidak terdapat hubungan darah. Keluarga ‎berdasarkan dimensi hubungan sosial ini dinamakan keluarga psikologis dan keluarga ‎pedagogis.‎
Dalam pengertian psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama ‎dalam tempat tinggal dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin ‎sehingga terjadi saling mempengaruhi, saling memperhatikan, dan saling menyerahkan ‎diri. Sedangkan dalam pengertian pedagogis, keluarga adalah “satu” persekutuan hidup ‎yang dijalin oleh kasih sayang antara pasangan dua jenis manusia yang dikukuhkan ‎dengan pernikahan, yang dimaksud untuk saling menyempurnakan diri. Dalam usaha ‎saling melengkapi dan saling menyempurnakan diri itu terkadang perealisasian peran dan ‎fungsi sebagai orang tua.‎
Dalam berbagai dimensi dan pengertian keluarga tersebut, esensi keluarga (ibu dan ayah) ‎adalah kesatuan dan ke satu tujuan adalah keutuhan dalam mengupayakan anak untuk ‎memiliki dan mengembangkan sikap disiplin.‎
Keutuhan orang tua (ayah dan ibu) dalam sebuah keluarga sangat dibutuhkan dalam ‎membantu anak untuk memiliki dan mengembangkan sikap disiplin. Keluarga yang ‎‎“utuh” memberikan peluang besar bagi anak untuk membangun kepercayaan terhadap ‎kedua orang tuanya yang merupakan unsur esensial dalam membantu anak memiliki dan ‎mengembangkan sikap disiplin. Kepercayaan dari orang tua yang dirasakan oleh anak ‎akan mengakibatkan arahan, bimbingan, dan bantuan orang tua yang diberikan kepada ‎anak dan “menyatu” dan memudahkan anak untuk menangkap makna dari upaya yang ‎dilakukan.‎
Sesungguhnya dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah Saw bersama dengan istrinya ‎yang tercinta terdapat nilai-nilai pendidikan/bimbingan yang sangat mendasar untuk ‎dijadikan pedoman dalam rumah tangga bagi segenap masyarakat muslim guna mencapai ‎kehidupan keluarga yang ideal dan sakinah. Semakin dikaji tentang kehidupan rumah ‎tangga Rasulullah Saw, maka semakin nampak pula pelajaran yang berharga bagi kita ‎dalam upaya membina sebuah keluarga.‎
Jika rumah tangga, masyarakat dan sekolah adalah sendi bimbingan insani, maka rumah ‎tangga merupakan pemberi pengaruh utama yang lebih kuat di samping di sekolah atau ‎dalam masyarakat. Sebagai pemimpin, orang tua harus mampu menuntun, mengarahkan, ‎mengawasi, mempengaruhi dan menggerakkan si anak agar penuh dengan gairah untuk ‎memberikan motivasi pada anak. Sebaiknya orang tua harus mampu berkomunikasi ‎sehingga muncul kepercayaan timbal balik dengan anak. ‎
Sebenarnya orang tua tahu persis tentang anaknya. Dari pengalaman sejak bayi lahir ‎hingga masa anak-anak kita sudah mengetahui kelebihan dan kekurangannya, jadi ‎diperlukan keluwesan untuk mengubah tingkah laku agar mau berprestasi. Orang tua ‎‎ harus terus menerus memperhatikan perkembangan anak.‎
Keluarga dapat menciptakan suasana nyaman di rumah agar anak merasa betah berada di ‎dekat pemimpinnya. Ciptakan rasa aman dalam dirinya, jangan sampai anak kita merasa ‎lebih aman berada di lingkungan teman-temannya ketimbang di lingkungan keluarganya. ‎


View full article »